Lagu-Lagu F4 yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi, Menghidupkan Lagi Nostalgia Jelang Konser F-FOREVER di Jakarta
RADAR SURABAYA — Dua dekade boleh berlalu, tetapi nama F4 masih mampu membuat banyak orang berhenti sejenak dan kembali mengingat masa-masa awal 2000-an.
Era ketika serial “Meteor Garden” menjadi tontonan wajib selepas sekolah, poster Dao Ming Si menempel di dinding kamar, dan lagu-lagu Mandopop diputar dari pemutar CD hingga radio kamar tidur.
Malam ini, nostalgia itu akan kembali dihidupkan lewat konser “F-FOREVER 1st World Tour” di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.
Jerry Yan, Van Ness Wu, dan Vic Chou dari F4 akan tampil bersama Ashin, vokalis Mayday, dalam pertunjukan yang sudah lama dinantikan para penggemar.
Baca Juga: Ini Alasan Ken Zhu Absen dari Tur Reuni F4
Bagi sebagian orang, konser ini bukan hanya soal musik. Ini tentang mengenang masa remaja, kisah cinta pertama, hingga momen-momen sederhana yang dulu ditemani lagu-lagu F4.
Nama F4 melejit di Asia setelah drama “Meteor Garden” tayang pada 2001. Adaptasi komik Jepang “Hana Yori Dango” itu sukses besar di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Tidak hanya para pemainnya yang menjadi idola, lagu-lagu soundtrack-nya pun melekat kuat di ingatan penggemar.
Salah satu lagu yang paling sulit dipisahkan dari “Meteor Garden” adalah “Meteor Rain (Liu Xing Yu)”.
Begitu intro lagu itu terdengar, banyak penggemar langsung teringat pada kisah cinta Dao Ming Si dan Shan Cai yang penuh konflik sekaligus romantisme khas drama Asia era tersebut.
Lagu bernuansa pop balada itu menjadi simbol dari emosinya serial “Meteor Garden”. Liriknya yang lembut dan melankolis membuat “Meteor Rain” terasa seperti kapsul waktu yang membawa pendengarnya kembali ke masa lalu.
Selain “Meteor Rain”, lagu “Jue Bu Neng Shi Qu Ni” juga menjadi salah satu lagu ikonik F4. Chorus “Baby baby baby” yang mudah diingat membuat lagu ini begitu populer di radio dan televisi Asia pada awal 2000-an.
Banyak penggemar masih hafal bagian refrain lagu tersebut, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Lagu itu juga digunakan sebagai lagu pembuka “Meteor Garden II”, memperkuat posisinya sebagai salah satu soundtrack paling dikenang dari serial tersebut.
Berbeda dengan nuansa melankolis “Meteor Rain”, lagu “Season of Fireworks” menghadirkan warna yang lebih hangat dan tenang.
Lagu yang menjadi ending theme “Meteor Garden II” itu sering dianggap mewakili fase kedewasaan para karakter dalam drama tersebut.
Sementara itu, F4 juga pernah membawakan ulang lagu klasik “Can’t Help Falling in Love” dengan sentuhan Mandopop khas mereka.
Lagu tersebut memperlihatkan sisi romantis para personel F4 dan menjadi salah satu penampilan yang kerap mendapat sambutan meriah dalam konser.
Ada pula “Te Amo (Wo Ai Ni)”, lagu yang mungkin tidak sepopuler “Meteor Rain”, tetapi punya tempat tersendiri di hati penggemar lama.
Melodinya yang ringan dan romantis membuat lagu itu tetap nyaman didengar hingga sekarang.
Bagi generasi yang tumbuh bersama “Meteor Garden”, lagu-lagu F4 bukan sekadar hiburan.
Lagu-lagu itu menjadi penanda zaman, mengiringi masa ketika internet belum secepat sekarang,
media sosial belum mendominasi kehidupan, dan musik masih dinikmati lewat CD atau kaset yang diputar berulang-ulang.
Malam ini, ribuan penggemar diperkirakan akan kembali menyanyikan lagu-lagu itu bersama.
Bukan hanya untuk menikmati konser, tetapi juga untuk merayakan kenangan yang selama ini tersimpan rapi dalam ingatan mereka.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan