RADAR SURABAYA - Buku berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans memang membuka pemikiran banyak orang terkait child grooming.
Buku yang diluncurkan pada 10 Oktober 2025 itu membuka kisah paling personal dalam hidupnya, mengungkap pengalaman kelam masa remaja yang selama ini ia simpan rapat.
Dalam buku tersebut, Aurelie dengan jujur menceritakan pengalaman pahit saat menjadi korban manipulasi dan pendekatan orang dewasa di usia muda, praktik yang dikenal sebagai child grooming.
Pengakuan Aurelie bukan hanya menjadi refleksi pribadi, tetapi juga memantik diskusi luas di media sosial tentang trauma, keberanian, dan proses pemulihan.
Keberanian Aurelie Moeremans tersebut mendapat dukungan banyak pihak, termasuk aktris Cinta Laura.
Melalui unggahan Story di akun Instagram pribadinya, @claurakiehl, ia menyampaikan apresiasi dan empati terhadap keberanian Aurelie.
“Thank you for being so brave in choosing to turn your pain into a voice that illuminates what so many survivors still carry in silence (Terima kasih atas keberanianmu dalam memilih untuk mengubah rasa sakitmu menjadi suara yang menerangi apa yang masih dipendam oleh begitu banyak penyintas dalam diam),” tulis Cinta, Kamis (15/1).
Cinta menilai kejujuran Aurelie bukan hanya menjadi bentuk penyembuhan pribadi, tetapi juga pegangan bagi mereka yang mengalami hal serupa.
“By laying your truth bare, you’re not only reclaiming your own story, but offering a lifeline to those who’ve been trapped in shame, confusion, or fear (Dengan mengungkapkan kebenaranmu secara terbuka, kamu tidak hanya merebut kembali kisahmu sendiri, tetapi juga menawarkan jalan keluar bagi mereka yang terjebak dalam rasa malu, kebingungan, atau ketakutan),” lanjutnya. Ia berharap buku ini menjadi pengingat bahwa trauma semacam itu nyata dan ada di sekitar kita.
Menanggapi respons publik, Aurelie mengaku tidak menyangka bukunya akan menjadi perbincangan nasional.
“Jujur aku tidak menyangka. Awalnya aku pikir buku ini akan dibaca secara terbatas,” ujarnya dikutip dari Tribunnews, Rabu (14/1).
Namun seiring berjalannya waktu, diskusi, dukungan, hingga perdebatan bermunculan, terutama setelah buku tersebut mudah diakses dalam format digital. Aurelie yang kini tinggal di Amerika tetap mengikuti perkembangan di Indonesia.
“Ternyata responsnya besar sekali. Ada dukungan, ada juga polemik, dan itu aku terima sebagai bagian dari proses,” katanya.
Di tengah riuhnya perdebatan, Aurelie lebih terfokus pada dampak positif yang ia rasakan dari para pembaca. Beragam pesan dari orang-orang yang pernah mengalami hal serupa membuatnya tersentuh.
“Yang paling menyentuh buat aku adalah ketika perempuan muda dan orang tua bilang mereka merasa terbantu. Itu bikin semua ketakutan di awal terasa sepadan,” ungkapnya.
Meski link digital bukunya sempat tidak bisa diakses, Aurelie menegaskan tujuan utama Broken Strings adalah membantu orang-orang yang mengalami pengalaman serupa dengannya.
Buku ini berisi kisah kelam masa lalu Aurelie di usia 15 tahun ketika ia mengalami child grooming oleh seseorang yang namanya disamarkan menjadi “Bobby”. (trn/nur)
Editor : Nurista Purnamasari