RADAR SURABAYA — Petenis Jerman Alexander Zverev akhirnya menuntaskan penantian panjangnya dengan meraih gelar Grand Slam pertama dalam kariernya setelah menjuarai French Open 2026.
Dalam final yang berlangsung dramatis di Court Philippe-Chatrier, Zverev mengalahkan petenis Italia Flavio Cobolli melalui pertarungan lima set ketat dengan skor 6-1, 4-6, 6-4, 6-7(5), 6-1 selama empat jam 16 menit.
Kemenangan ini menjadi momen bersejarah bagi Zverev yang sebelumnya telah beberapa kali gagal di partai puncak Grand Slam.
Perjuangan Panjang Menuju Gelar Mayor
Sebelum akhirnya menjadi juara di Paris, Zverev beberapa kali nyaris meraih gelar Grand Slam, termasuk saat US Open 2020 ketika ia sempat unggul sebelum kalah dari petenis Austria Dominic Thiem.
Ia juga pernah mengalami dua kekalahan di final Grand Slam lainnya yang membuatnya terus dibayangi kegagalan di panggung terbesar tenis dunia.
“Pertama-tama, saya tidak percaya bahwa saya menang. Lalu saya melihat tribun penonton, dan mereka semua merayakan kemenangan,” ujar Zverev usai pertandingan.
Roland Garros Jadi Titik Balik Karier
Roland Garros memiliki makna khusus bagi Zverev, tidak hanya sebagai tempat kemenangan, tetapi juga lokasi berbagai momen sulit dalam kariernya, termasuk cedera dan kekalahan pahit.
“Saya pernah terbaring di lapangan ini dengan cedera yang tidak tahu apakah saya akan pulih.
Semua kenangan itu tetap ada, tetapi kemenangan ini mengalahkan semuanya,” ungkapnya.
Setelah kehilangan set keempat melalui tie-break, Zverev bangkit dominan di set kelima dan memastikan gelar pertamanya di level Grand Slam.
Dukungan Keluarga dan Tim Jadi Kunci
Zverev juga menegaskan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari peran tim dan keluarga, termasuk sang ayah Alexander Zverev Sr. yang juga menjadi pelatihnya, serta sang kakak Mischa Zverev, mantan petenis profesional.
“Ini benar-benar upaya keluarga dan tim. Semua orang pantas mendapatkan trofi ini,” katanya.
Catatan Sejarah Baru
Dengan kemenangan ini, Zverev resmi mengakhiri penantian panjangnya dan menempatkan dirinya sebagai juara Grand Slam, pencapaian tertinggi dalam dunia tenis profesional.
Ia menegaskan bahwa status tersebut tidak akan pernah bisa dihapus. “Saya sekarang juara Grand Slam, dan tidak ada yang bisa mengambil itu dari saya.” Pungkasnya.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan