Radar Surabaya - Meski olahraga padel masih tergolong baru di Indonesia, nama Steven Samson sudah lebih dulu dikenal di level internasional. Pelatih asal Indonesia ini sukses menorehkan prestasi dengan berlatih dan berbagi lapangan bersama sejumlah legenda dunia padel seperti Federico Chingotto, Jorge Martínez, dan Fernando Poggi, tiga sosok panutan dalam dunia padel profesional.
Bagi Steven, pengalaman tersebut bukan sekadar kehormatan, tetapi juga kesempatan langka untuk menyerap ilmu langsung dari para pemain papan atas dunia.
“Bisa bermain langsung dengan Chingotto, Martínez, dan Poggi itu luar biasa. Mereka bukan hanya pemain hebat, tapi juga terbuka berbagi ilmu. Saya banyak belajar tentang taktik dan filosofi padel di level tertinggi,” ungkap Steven saat ditemui, Senin (20/10).
Kini, melalui Samson Padel Academy yang ia dirikan, Steven bertekad membawa ilmu dan pengalamannya dari Spanyol untuk mempercepat perkembangan padel di Indonesia.
Ia tengah menyiapkan program pelatihan berstandar internasional guna membangun ekosistem padel yang solid di Tanah Air.
“Padel di Indonesia punya potensi besar. Sekarang saatnya kita bangun fondasi yang kuat, mulai dari pelatih, pemain, hingga komunitas,” ujarnya.
Menariknya, perjalanan Steven di dunia padel tidak berangkat dari olahraga raket mana pun. Ia memulai semuanya dari nol, tanpa latar belakang tenis, bulu tangkis, atau squash.
Melalui disiplin, konsistensi, dan semangat belajar tinggi, Steven berkembang pesat hingga dikenal di kalangan pemain dan pelatih internasional.
Kisah Steven menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa prestasi tidak selalu bergantung pada awal yang sempurna. Dengan kerja keras dan kemauan belajar, siapa pun dapat menorehkan pencapaian di olahraga padel, baik sebagai pemain maupun pelatih.
Dengan langkah yang tengah ia tempuh, bukan tidak mungkin Indonesia segera melahirkan generasi pemain padel yang mampu bersaing di kancah dunia.
Sebagai catatan, padel merupakan olahraga raket yang memadukan unsur tenis dan squash, serta dimainkan berpasangan di lapangan berdinding kaca. Popularitasnya kini meningkat pesat di Eropa dan Amerika Latin, sementara di Indonesia mulai tumbuh komunitas dan lapangan baru di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. (ali/fir)
Editor : M Firman Syah