Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Wafat di Bulan Ramadan, Benarkah Penuh Keistimewaan? Ini Penjelasannya

Muhammad Firman Syah • Jumat, 7 Maret 2025 | 10:44 WIB

Ilustrasi salat jenazah.
Ilustrasi salat jenazah.

RADAR SURABAYA – Setiap makhluk hidup pasti akan menemui ajalnya, karena tidak ada yang abadi di dunia ini selain Allah SWT, Sang Pemberi Kehidupan. Kematian bisa datang kapan saja, dalam kondisi apa pun, termasuk di bulan Ramadan, bulan penuh berkah yang diyakini memiliki keistimewaan tersendiri.

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan bahwa setiap manusia akan menghadapi kematian, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 35:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

"Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan."

Allah juga berfirman dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 8:

قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

"Katakanlah, 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya pasti akan menemuimu. Kamu kemudian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang selama ini kamu kerjakan.’"

Meninggal di Bulan Ramadan, Apakah Pasti Istimewa?

Menurut kitab Jawahir Al-Bukhari karya Syaikh Muhammad Musthafa Imarah, seseorang yang meninggal di bulan Ramadan dianggap sebagai orang saleh, karena ia menjalani hidupnya dengan baik dan menjauhi larangan Allah. Buku ini berpendapat bahwa kemuliaan wafat di bulan Ramadan hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar taat.

Namun, menurut Ustaz Adi Hidayat, meninggal di bulan Ramadan tidak otomatis menjadi tanda husnul khatimah atau kematian yang baik. Semua kembali pada amal perbuatan seseorang selama hidupnya.

"Jadi Ramadan, jika ada yang wafat di dalamnya belum tentu jadi tanda kebaikan wafatnya. Kecuali, jika dia wafat dalam keadaan saleh," ujarnya dalam sebuah kajian.

Senada dengan itu, Dairatul Ifta Yordania melalui fatwa Syekh Nur Ali Salman menegaskan bahwa bulan Ramadan bukan jaminan seseorang yang wafat akan langsung masuk surga. Fatwa tersebut berbunyi:

"Masuk surga itu karena anugerah Allah, dan sebabnya adalah amal saleh. Tapi bukan berarti siapa saja yang wafat di bulan Ramadan pasti masuk surga." (Dairatul Ifta, Fatwa Nomor 2322)

Hadis tentang Keutamaan Meninggal dalam Keadaan Berpuasa

Dalam buku Keistimewaan Puasa Menurut Syariat & Kedokteran karya Syeikh Mutawalli Sya'rawi, disebutkan sebuah hadis yang menunjukkan bahwa kematian dalam keadaan berpuasa memiliki keutamaan tersendiri.

Diriwayatkan oleh Amr bin Murrah al-Juhni, seseorang dari Qudha'ah bertanya kepada Rasulullah SAW:

"Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya, aku melaksanakan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, melakukan salat Tarawih, dan menunaikan zakat?"

Rasulullah SAW menjawab:

"Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan seperti ini, maka dia termasuk golongan syuhada' dan shiddiqin." (HR Ibnu Hibban)

Kesimpulan

Meskipun wafat di bulan Ramadan diyakini sebagai waktu yang mulia, hal itu tidak serta-merta menjamin seseorang mendapatkan tempat di surga. Yang menentukan adalah amal ibadah dan ketakwaan seseorang semasa hidupnya. Namun, wafat di bulan suci atau hari-hari istimewa seperti Jumat, serta di tempat suci seperti Tanah Haram, dapat menjadi tanda husnul khatimah. (sil/fir)

Editor : M Firman Syah
#puasa #kematian #ramadan #surga