Muhammadiyah Himpun Rp6,09 Miliar untuk Gempa NTT, 7.225 Penyintas Sudah Dilayani

Rahmat Adhy Kurniawan • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 12:59 WIB
Tim EMT Muhammadiyah mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, yang mengalami kerusakan akibat gempa.(muhammadiyah)
Tim EMT Muhammadiyah mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, yang mengalami kerusakan akibat gempa.(muhammadiyah)

RADAR SURABAYA — Muhammadiyah terus memperkuat respons kemanusiaan untuk membantu penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Hingga 3 September 2026, Muhammadiyah telah memberikan layanan kesehatan kepada 7.225 penyintas.

Respons kemanusiaan tersebut dilakukan melalui kolaborasi Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Lazismu.

Selain mengerahkan tenaga medis dan membuka layanan kesehatan, Muhammadiyah juga mendistribusikan bantuan logistik serta memberikan layanan psikososial kepada masyarakat terdampak gempa.

Muhammadiyah Dirikan Posko di Wilayah Terdampak Gempa NTT

Sejak awal bencana, Muhammadiyah memobilisasi sumber daya dari berbagai daerah untuk membantu masyarakat terdampak gempa NTT.

Respons awal dilakukan melalui Pos Koordinasi Wilayah yang berlokasi di Klinik Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende.

Baca Juga: Pelindo Tanjung Wangi Buka Buffer Area untuk Bantu Urai Kemacetan

Pos tersebut menjadi pusat perencanaan, koordinasi, dan evaluasi berbagai aksi kemanusiaan.

Hingga kini, Muhammadiyah telah mendirikan tujuh Pos Koordinasi Daerah di tujuh kabupaten terdampak serta 10 Pos Pelayanan.

Berbagai layanan diprioritaskan, mulai dari kesehatan, nonkesehatan, hingga distribusi logistik.

7.225 Penyintas Mendapat Layanan Kesehatan

Pada sektor kesehatan, Muhammadiyah mengerahkan Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed dan EMT Mobile.

EMT Type-1 Fixed diperkuat 50 personel dan mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Tim EMT Muhammadiyah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan dijadwalkan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026.

Sementara itu, EMT Mobile bergerak ke sejumlah lokasi pengungsian yang tidak terjangkau layanan kesehatan tetap.

Tim tersebut melibatkan tenaga medis dari berbagai rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Indonesia.

Hingga 3 September 2026, sebanyak 7.225 penyintas telah mendapatkan layanan kesehatan.

Baca Juga: Dinsos Surabaya Verifikasi 3.283 Keluhan Data Desil, Tim Turun ke Lapangan

Rinciannya terdiri atas 85 bayi, 229 balita, 266 anak, 150 remaja, 2.173 dewasa, 22 ibu hamil, dan 799 lansia berdasarkan kelompok usia yang tercatat dalam layanan EMT.

Sejumlah keluhan dan diagnosis yang banyak ditemukan di rumah sakit lapangan antara lain infeksi saluran pernapasan sebanyak 437 kasus,

nyeri otot dan pegal-pegal 372 kasus, hipertensi 233 kasus, nyeri atau rasa tidak nyaman di sekitar perut 186 kasus, serta sakit kepala dan nyeri leher hingga tengkuk sebanyak 153 kasus.

Dapur Umum hingga Layanan Psikososial

Bantuan Muhammadiyah untuk penyintas gempa NTT tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan.

Muhammadiyah juga mengoperasikan dapur umum yang telah melayani 1.750 jiwa. Selain itu, fasilitas sanitasi dan air bersih dibangun di dua titik.

Layanan psikososial juga diberikan kepada 1.773 jiwa untuk membantu masyarakat menghadapi dampak bencana.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar penyintas, Muhammadiyah mendistribusikan berbagai bantuan logistik, di antaranya mobil dapur umum, mobil taktis,

500 paket family kit, 600 paket school kit, 1.440 kaleng RendangMu, serta terpal sepanjang 500 meter.

Baca Juga: BRI dan Serikat Pekerja Tandatangani PKB 2026–2028, Perkuat Hubungan Industrial Harmonis

Tim EMT Mobile dari rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah juga memberikan dukungan berupa logistik dan obat-obatan.

Lazismu Himpun Donasi Rp6,09 Miliar

Dukungan pembiayaan untuk respons kemanusiaan juga terus dilakukan melalui Lazismu lewat program Indonesia Siaga untuk penanganan gempa bumi NTT.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebelumnya menerbitkan Surat Edaran Nomor 18/EDR/I.0/H/2026 tertanggal 20 Agustus 2026.

Surat tersebut menginstruksikan masjid-masjid Muhammadiyah untuk menggalang infak Salat Jumat bagi korban gempa NTT.

Penggalangan infak tersebut dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Hingga 3 September 2026, total dana yang berhasil dihimpun Lazismu mencapai Rp6.099.163.820.

Dari total tersebut, sebanyak Rp3.455.958.814 telah disalurkan untuk mendukung aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah di NTT.

Lazismu Pastikan Bantuan untuk Pemulihan Penyintas

Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, menyampaikan apresiasi kepada relawan Muhammadiyah yang terlibat dalam respons bencana, termasuk para donatur dan jemaah Salat Jumat yang memberikan dukungan.

“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya seluruh relawan Muhammadiyah di lapangan atas kerja-kerja kemanusiaan.

Tentu, kami juga berterima kasih kepada para donatur dan jemaah Salat Jumat atas kepercayaannya sehingga aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah kepada penyintas bencana di NTT dapat terus dilanjutkan,” ujar Barry, Jumat (4/9).

Menurut dia, Lazismu akan terus memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program Indonesia Siaga di NTT.

Dana yang dihimpun dari masyarakat akan dioptimalkan untuk mendukung proses pemulihan masyarakat terdampak, termasuk hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Insyaallah, dukungan ini akan terus dilanjutkan untuk membangun ketangguhan masyarakat dan membantu penyintas bangkit dari dampak bencana,” katanya.

Respons Muhammadiyah terhadap gempa NTT menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada masa tanggap darurat.

Dukungan kesehatan, pemenuhan kebutuhan dasar, layanan psikososial, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi bagian penting dalam membantu penyintas kembali menjalani kehidupan.

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : muhammadiyah
Gempa NTT Lazismu Muhammadiyah Disaster Management Center muhammadiyah