Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kebakaran Rumah Sakit Jadi Alarm Keras, Pakar Unair Tegaskan Pentingnya Penerapan K3 dan Kesiapsiagaan Bencana

Rahmat Sudrajat • Rabu, 10 Juni 2026 | 18:41 WIB
Dosen Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair), Dr. Neffrety Nilamsari, S.Sos., M.Kes
Dosen Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair), Dr. Neffrety Nilamsari, S.Sos., M.Kes

RADAR SURABAYA – Peristiwa kebakaran yang terjadi di salah satu rumah sakit besar di Jawa Timur menjadi pengingat pentingnya penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara optimal.

Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan dengan tingkat risiko tinggi wajib memiliki sistem kesiapsiagaan yang matang untuk melindungi pasien, tenaga kesehatan, serta pengunjung.

Dosen Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair), Dr. Neffrety Nilamsari, S.Sos., M.Kes., menegaskan bahwa penerapan K3 di rumah sakit tidak boleh dianggap sebagai formalitas semata.

Menurutnya, lingkungan rumah sakit memiliki berbagai potensi bahaya, mulai dari risiko kebakaran hingga kondisi darurat lainnya yang dapat mengancam keselamatan banyak pihak.

“Berkaca pada kejadian kebakaran yang baru-baru ini terjadi di sebuah rumah sakit besar di Jawa Timur menunjukkan bahwa penerapan K3 untuk pencegahan kecelakaan maupun kebakaran merupakan hal yang sangat penting,” ujarnya, Rabu (10/6).

Rumah Sakit Wajib Siap Hadapi Situasi Darurat

Neffrety menjelaskan, penerapan manajemen K3 harus berjalan seiring dengan kesiapan rumah sakit dalam menghadapi kondisi darurat.

Kewajiban tersebut juga telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang mengharuskan setiap fasilitas kesehatan memiliki sistem kesiapsiagaan dan tanggap darurat bencana yang terstruktur.

Menurutnya, kesiapan tersebut harus didukung oleh berbagai aspek, seperti tersedianya jalur evakuasi yang memadai, sarana dan prasarana keselamatan, serta standar operasional prosedur (SOP) yang jelas terkait evakuasi dan mitigasi bencana.

“Kesiapan itu harus didukung oleh berbagai hal, termasuk ketersediaan jalur evakuasi dan bagaimana situasi darurat dikomandoi melalui SOP evakuasi maupun mitigasi

bencana bagi tenaga kesehatan, pasien, pengunjung, dan seluruh pihak yang berada di rumah sakit,” jelasnya.

Simulasi Bencana Perlu Dilakukan Secara Berkala

Selain infrastruktur keselamatan, simulasi tanggap darurat juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesiapan rumah sakit.

Neffrety menyarankan agar simulasi bencana dilakukan secara berkala, minimal dua bulan sekali, sehingga seluruh penghuni rumah sakit memahami langkah yang harus dilakukan saat terjadi keadaan darurat.

Ia menilai peran penanggung jawab atau person in charge (PIC) sangat penting dalam mengoordinasikan proses evakuasi.

Dengan koordinasi yang baik, risiko korban jiwa maupun kerugian akibat bencana dapat ditekan seminimal mungkin.

Tantangan Penerapan K3 di Rumah Sakit

Meski penting, penerapan K3 di rumah sakit masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan sumber daya dan rendahnya kesadaran terhadap budaya keselamatan kerja masih menjadi kendala utama.

Sebagian pengelola rumah sakit juga masih memandang K3 sebagai beban biaya tambahan.

Padahal, menurut Neffrety, investasi pada sistem keselamatan akan memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh elemen di lingkungan rumah sakit.

“Adakalanya penerapan K3 selalu dikaitkan dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

Padahal, penggunaan peralatan keselamatan yang tepat dapat mencegah risiko yang lebih besar,” katanya.

Ia mencontohkan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di unit farmasi. Untuk risiko kebakaran tertentu, penggunaan dry chemical powder atau CO₂ dinilai lebih efektif dibandingkan APAR jenis biasa karena mampu memadamkan api dengan lebih optimal.

Komitmen Pimpinan Jadi Kunci Keberhasilan

Neffrety menegaskan bahwa keberhasilan penerapan K3 di rumah sakit sangat bergantung pada komitmen pimpinan.

Komitmen tersebut harus diwujudkan melalui pembentukan organisasi tanggap darurat, pelaksanaan simulasi secara rutin,

pemeriksaan fasilitas keselamatan secara berkala, serta sistem evaluasi yang berkelanjutan.

Dengan budaya keselamatan yang kuat, rumah sakit tidak hanya mampu memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, tetapi juga menjamin keamanan seluruh penghuni saat menghadapi situasi darurat.(rmt) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#kebakaran rumah sakit #Dr. Neffrety Nilamsari #vokasi Unair #k3