RADAR SURABAYA – Peneliti Fakultas Farmasi Universitas Jember (Unej) menemukan potensi besar tanaman liar endemik Kalimantan, Ampelocissus rubiginosa Lauterb atau yang dikenal masyarakat Dayak sebagai Tawas Ut, sebagai kandidat obat herbal diabetes.
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak akar tanaman tersebut mampu menurunkan gula darah dengan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan obat antidiabetes standar.
Temuan ini menjadi kabar baik di tengah meningkatnya jumlah penderita diabetes di Indonesia yang kini mencapai 19,5 juta orang.
Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, tingginya angka diabetes juga membebani anggaran kesehatan nasional hingga puluhan triliun rupiah setiap tahun.
Dekan Fakultas Farmasi Unej, Ari Satia Nugraha, mengatakan penelitian terhadap tanaman obat asli Indonesia perlu terus dikembangkan untuk mendukung kemandirian farmasi nasional.
Baca Juga: Calvin Verdonk Batal Gabung Timnas Indonesia, Ini Daftar Skuad Terbaru untuk Lawan Oman dan Mozambik
"Diabetes merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Di sisi lain, Indonesia memiliki ribuan spesies tanaman obat yang belum dieksplorasi secara optimal," ujarnya dikutip dari Antara, Rabu.
Penelitian Hampir 10 Tahun Ungkap Khasiat Tawas Ut
Penelitian mengenai Tawas Ut dimulai sejak 2015 setelah tim peneliti memperoleh sampel tanaman dari Kalimantan.
Selama hampir satu dekade, penelitian dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari isolasi senyawa aktif, uji laboratorium (in vitro), hingga pengujian pada hewan percobaan (in vivo).
Tanaman merambat yang tumbuh liar di hutan Kalimantan ini sejak lama dimanfaatkan masyarakat Dayak untuk mengobati luka. Namun, potensi antidiabetesnya belum pernah dibuktikan secara ilmiah.
Menurut Ari, ekstrak etanol akar Tawas Ut memiliki kandungan polifenol yang sangat tinggi. Kandungan tersebut berperan penting dalam menghambat enzim yang memecah karbohidrat menjadi gula di dalam tubuh.
Lebih Efektif Dibanding Acarbose
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak akar Tawas Ut mampu menghambat enzim pemecah gula dengan efektivitas hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan Acarbose, salah satu obat antidiabetes yang umum digunakan.
Dalam pengujian laboratorium, Tawas Ut hanya membutuhkan dosis yang jauh lebih kecil untuk menghasilkan efek yang sama dibandingkan Acarbose.
Secara mekanisme, tanaman ini bekerja dengan memperlambat pemecahan karbohidrat menjadi gula di dalam usus.
Akibatnya, jumlah gula yang masuk ke aliran darah dapat ditekan sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap terkendali.
Selain itu, kandungan fenolik dan antioksidan yang tinggi dalam tanaman tersebut turut mendukung aktivitas antidiabetes yang dimilikinya.
Ditemukan Tiga Senyawa Aktif Baru
Tim peneliti juga berhasil mengidentifikasi tiga senyawa aktif utama dalam akar Tawas Ut.
Ketiga senyawa tersebut termasuk kelompok flavonoid yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan tinggi.
Flavonoid merupakan senyawa alami yang banyak ditemukan pada teh hijau, anggur merah, serta berbagai jenis buah beri.
Menariknya, ketiga senyawa aktif tersebut baru pertama kali ditemukan pada spesies Ampelocissus rubiginosa.
Temuan ini semakin memperkuat potensi Tawas Ut sebagai bahan baku pengembangan obat herbal diabetes di masa depan.
Masih Menunggu Uji Klinis pada Manusia
Meski hasil penelitian menunjukkan potensi yang menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa Tawas Ut belum dapat digunakan sebagai terapi diabetes pada manusia.
Seluruh hasil yang diperoleh saat ini masih berasal dari uji laboratorium dan hewan percobaan.
Oleh karena itu, diperlukan tahapan uji klinis lanjutan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya pada manusia.
Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BRIN, James Cook University, dan University of Wollongong.
Hasil riset telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Biologically Active Products from Nature pada Desember 2025.
Ari menilai penelitian ini membuktikan bahwa kekayaan hayati Indonesia memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan berbasis herbal yang berdaya saing global.
"Penelitian ini juga menjadi bukti bahwa pengetahuan tradisional masyarakat Dayak dapat divalidasi secara ilmiah dan berpotensi mendukung kemandirian industri farmasi nasional," katanya.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan