JAKARTA – Pasar modal Indonesia diguncang tekanan hebat pada perdagangan Rabu (3/6). Di tengah sorotan publik terhadap penggeledahan Kantor Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Kejaksaan Agung, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendadak terjun bebas hingga hampir 5 persen.
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 11.59 WIB, IHSG anjlok 305,94 poin atau 4,94 persen ke level 5.889,48. Padahal pada awal perdagangan indeks sempat dibuka di level 6.207,10 dan menyentuh level tertinggi harian 6.213,80 sebelum akhirnya terus bergerak turun.
Tekanan jual terlihat terjadi hampir sepanjang sesi perdagangan. Dalam hitungan jam, indeks kehilangan lebih dari 300 poin dan menyentuh level terendah harian di 5.876,32.
Koreksi tajam tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya perhatian publik terhadap perkembangan di Badan Gizi Nasional. Sejak dini hari, penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung melakukan penggeledahan di kantor BGN di Jakarta.
Bahkan berdasarkan informasi yang beredar di lingkungan internal penegak hukum, mantan Kepala BGN Dadan Hindayana dikabarkan dijemput aparat usai kembali dari ibadah haji. Namun hingga kini informasi tersebut belum mendapatkan konfirmasi resmi dari Kejaksaan Agung.
Sebelumnya, Pelaksana Harian Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Mochamad Jeffry membenarkan adanya penggeledahan di kantor BGN.
"Penyidik pidsus (Jaksa Muda Bidang Tindak Pidana Khusus) Kejaksaan Agung benar melakukan geledah di kantor BGN," katanya kepada wartawan.
Situasi semakin menarik perhatian karena penggeledahan tersebut berlangsung hanya sehari setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan besar-besaran di tubuh Badan Gizi Nasional. Dadan Hindayana dicopot dari jabatan Kepala BGN dan digantikan oleh Naniek Sudaryati Deyang. Dua Wakil Kepala BGN juga turut diganti.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti bahwa anjloknya IHSG secara langsung disebabkan oleh penggeledahan di BGN. Pergerakan indeks saham umumnya dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari sentimen domestik, aksi jual investor, kondisi ekonomi global, hingga faktor politik dan penegakan hukum.
Namun, berdekatan waktunya dua peristiwa besar tersebut membuat pasar dan publik sama-sama menunggu penjelasan lebih lanjut dari pemerintah maupun aparat penegak hukum terkait perkembangan kasus yang tengah menjadi perhatian nasional itu.
Editor : M Firman Syah