JAKARTA – Malam di kawasan Pasar Jiung, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, berubah menjadi kepanikan. Kobaran api raksasa yang muncul pada Senin (1/6) sekitar pukul 20.55 WIB dengan cepat menjalar di kawasan padat penduduk, melahap bangunan demi bangunan dan memaksa warga berlarian menyelamatkan diri serta harta benda yang masih bisa dibawa.
Langit Kemayoran memerah. Asap hitam pekat membumbung tinggi dan terlihat dari berbagai sudut kota. Teriakan warga bercampur suara sirene mobil pemadam menciptakan suasana mencekam yang berlangsung hingga dini hari.
Besarnya kobaran api membuat petugas harus bekerja ekstra keras. Sebanyak 35 unit mobil pemadam kebakaran dan 165 personel dikerahkan untuk menjinakkan si jago merah yang terus mengamuk di tengah rapatnya permukiman warga.
Pertarungan melawan api berlangsung selama kurang lebih tujuh jam. Petugas harus berjibaku menembus panas, asap tebal, dan akses sempit agar kobaran api tidak merembet lebih luas ke kawasan sekitar.
Saat matahari terbit, yang tersisa hanyalah puing-puing hitam dan rangka bangunan yang hangus terbakar. Aroma asap masih menyengat di udara. Warga yang kehilangan tempat tinggal hanya bisa memandangi sisa-sisa kehidupan mereka yang luluh lantak dalam satu malam.
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik, namun aparat masih melakukan pendalaman untuk memastikan sumber awal munculnya api.
Di tengah situasi darurat tersebut, ratusan warga terdampak dievakuasi ke posko pengungsian yang didirikan di Lapangan Jusuf Hamka, Jalan Benyamin Suaeb. Lokasi itu menjadi tempat berlindung sementara bagi warga dari RW 04 dan RW 05 yang terdampak langsung kebakaran.
Pemerintah bergerak cepat menyiapkan fasilitas pengungsian dan bantuan kemanusiaan. Pendataan korban terus dilakukan untuk memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan perlindungan dan bantuan yang diperlukan.
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, mengatakan keberadaan posko pengungsian sangat penting agar warga tidak terlantar pascakebakaran.
“Pengungsian ini untuk istirahat warga sekaligus memudahkan distribusi bantuan,” ujarnya, Selasa (2/6).
Tiga tenda pengungsian telah didirikan oleh Dinas Sosial DKI Jakarta. Sementara bantuan logistik mulai berdatangan dari BPBD, PMI, Baznas, dan berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan bencana.
Selain kehilangan tempat tinggal, sejumlah warga juga mengalami gangguan pernapasan akibat terpapar asap tebal saat kebakaran berlangsung. Mereka telah dievakuasi ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Kini, di tengah hamparan puing dan abu yang tersisa, warga hanya berharap dapat segera bangkit dari musibah tersebut. Sementara itu, aparat masih terus menyisir lokasi dan menyelidiki penyebab pasti kebakaran yang mengubah malam biasa di Kemayoran menjadi tragedi besar yang menyisakan luka bagi ratusan keluarga. (nor/rin/fir)
Editor : M Firman Syah