Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kebijakan Bahasa Asing di Sekolah Tuai Sorotan, Ini Peringatan Pakar

Rahmat Sudrajat • Senin, 1 Juni 2026 | 04:30 WIB
Di tengah upaya meningkatkan daya saing global generasi muda, para pakar mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara penguasaan bahasa asing, Bahasa Indonesia, dan bahasa daerah. (Rahmat Sudrajat)
Di tengah upaya meningkatkan daya saing global generasi muda, para pakar mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara penguasaan bahasa asing, Bahasa Indonesia, dan bahasa daerah. (Rahmat Sudrajat)

Bahasa Asing di Sekolah Harus Seimbang dengan Bahasa Indonesia dan Daerah

RADAR SURABAYA – Kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan bahasa asing di lingkungan sekolah memunculkan beragam tanggapan dari kalangan akademisi, pendidik, hingga masyarakat. 

Di tengah upaya meningkatkan daya saing global generasi muda, para pakar mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara penguasaan bahasa asing, Bahasa Indonesia, dan bahasa daerah.

Pakar linguistik sekaligus Guru Besar Ilmu Etnolinguistik Universitas Airlangga, Prof Dr Dra Ni Wayan Sartini, M.Hum, menilai penguatan bahasa asing perlu dilakukan secara proporsional agar tidak 

menggeser peran Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan maupun bahasa daerah sebagai identitas budaya.

Menurutnya, bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, memang memiliki peran penting dalam dunia kerja, pendidikan tinggi, dan perkembangan teknologi digital.

Namun, Indonesia sebagai negara multibahasa harus mampu menempatkan setiap bahasa sesuai fungsi dan perannya.

“Bahasa Indonesia berfungsi sebagai pemersatu bangsa, bahasa daerah sebagai penanda identitas budaya, sedangkan bahasa asing menjadi jembatan untuk meningkatkan kompetensi global,” ujarnya, Minggu (31/5).

Dominasi Bahasa Asing Dikhawatirkan Menggerus Bahasa Daerah

Prof. Wayan menjelaskan bahwa persoalan muncul ketika hubungan antarbahasa tidak dikelola secara seimbang.

Baca Juga: Bukan Soal Pertumbuhan, Ini Tantangan Terbesar Ekonomi Jawa Timur

Dalam beberapa kondisi, bahasa Inggris mulai dipandang sebagai simbol kemajuan sehingga berpotensi menempatkan bahasa lain pada posisi yang kurang strategis.

Kondisi tersebut dinilai semakin mengkhawatirkan karena jumlah penutur bahasa daerah di Indonesia terus mengalami penurunan.

Lemahnya pewarisan bahasa daerah dari satu generasi ke generasi berikutnya menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat ancaman kepunahan bahasa lokal.

Jika penggunaan bahasa Inggris di sekolah diterapkan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya, dominasi bahasa asing dapat semakin kuat.

Akibatnya, penggunaan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah berpotensi mengalami penurunan.

“Mustahil kita membangun generasi pembelajar yang kokoh jika fondasi literasi dalam bahasa nasional sendiri rapuh,” tegasnya.

Penggunaan Bahasa Inggris Perlu Disesuaikan Kondisi Sekolah

Lebih lanjut, Prof. Wayan menegaskan bahwa pembiasaan bahasa Inggris tidak harus dilakukan secara penuh dalam seluruh aktivitas pembelajaran.

Penerapan dapat dilakukan secara bertahap melalui percakapan sederhana, instruksi di kelas, maupun pengenalan kosakata tertentu.

Menurutnya, kebijakan tersebut harus mempertimbangkan kesiapan masing-masing sekolah.

Pasalnya, masih terdapat kesenjangan fasilitas pendidikan dan kualitas sumber daya manusia antara sekolah di perkotaan dan daerah terpencil.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Senin, 1 Juni 2026: Cuaca Cerah, Siang Panas, Waspada Banjir Rob di Pesisir

Karena itu, pemerintah diharapkan tidak hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi juga menyediakan dukungan yang memadai.

Dukungan tersebut mencakup pelatihan guru, penyediaan materi pembelajaran yang adaptif, serta model implementasi yang fleksibel sesuai kebutuhan sekolah.

Bahasa Daerah Harus Tetap Mendapat Ruang

Selain memperkuat kemampuan bahasa asing, pemerintah dan sekolah juga diminta tetap memberikan ruang bagi pelestarian bahasa daerah.

Berbagai kegiatan dapat dilakukan untuk menjaga keberlangsungan bahasa lokal, mulai dari pembelajaran sastra daerah, penceritaan cerita rakyat, hingga kegiatan budaya di lingkungan sekolah.

Prof. Wayan menegaskan bahwa tujuan pendidikan bahasa bukan untuk memilih satu bahasa dan meninggalkan bahasa lainnya.

Sebaliknya, pendidikan harus mampu membentuk generasi yang mahir berbahasa Indonesia, memahami akar budaya daerah, dan memiliki kemampuan berbahasa asing untuk bersaing di tingkat internasional.

“Di situlah pendidikan bahasa menemukan maknanya, bukan sekadar mengajarkan cara berbicara, tetapi juga membantu generasi muda memahami siapa dirinya dan bagaimana ia berhubungan dengan dunia,” pungkasnya.(rmt) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#ni wayan sartini #bahasa daerah #bahasa asing #Unair #bahasa indonesia