RADAR SURABAYA – Sebanyak 77 persen jemaah haji Embarkasi Surabaya tahun 2026 tercatat masuk kategori risiko tinggi (risti).
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius petugas kesehatan menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Hingga Kamis (21/5) malam, sebanyak 43.999 jemaah dari total 116 kloter Embarkasi Surabaya telah diberangkatkan ke Tanah Suci.
Namun, dalam proses pemberangkatan masih ditemukan sejumlah persoalan kesehatan dan administrasi yang menjadi evaluasi untuk pelaksanaan haji tahun berikutnya.
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya sekaligus Kabid Kesehatan PPIH Embarkasi Surabaya, Rosidi Roslan,
mengungkapkan terdapat 14 jemaah yang dinyatakan tidak laik terbang dan 17 jemaah batal berangkat.
Baca Juga: 493 Ekor Burung Diselundupkan dari Bali, Diamankan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi
“Sebagian karena masalah administrasi, ada yang meninggal dunia, dan ada juga yang mengalami gangguan kesehatan,” ujarnya.
Menurut Rosidi, status tidak laik terbang diberikan kepada jemaah yang secara medis belum memenuhi syarat kemampuan fisik atau istitaah untuk menjalankan ibadah haji.
Selain itu, faktor kesehatan menjadi tantangan terbesar dalam penyelenggaraan haji tahun ini.
Sebanyak 127 jemaah harus menjalani perawatan atau dirujuk ke rumah sakit sebelum keberangkatan.
Penyakit yang paling banyak ditemukan antara lain anemia, diabetes, hiperkolesterol, hingga diare.
Kondisi tersebut umumnya dipicu kelelahan akibat aktivitas berlebih sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.
“Penyakit yang muncul rata-rata dipicu faktor kelelahan. Karena itu jemaah diimbau menjaga kondisi fisik sebelum menjalani puncak ibadah haji,” katanya.
Data kesehatan juga menunjukkan mayoritas jemaah yang masuk kategori risti berasal dari kelompok lanjut usia (lansia), jemaah dengan penyakit bawaan, hingga lansia dengan riwayat penyakit kronis.
Kelompok terakhir dinilai membutuhkan pengawasan kesehatan lebih intensif selama menjalankan ibadah haji.
Baca Juga: Ledakan Pabrik Kimia di Cilegon, Kabut Berbau Menyengat Cemari Udara Bikin Warga Sesak Napas
Meski demikian, pihak PPIH memastikan penanganan medis berjalan optimal. Sejumlah jemaah yang sempat tertunda keberangkatannya akhirnya tetap bisa berangkat setelah mendapatkan perawatan dan pemantauan kesehatan lanjutan.
Rosidi menegaskan pentingnya pembinaan kesehatan calon jemaah haji sejak di daerah asal. Menurutnya, ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik yang prima sehingga pola hidup sehat perlu diterapkan jauh sebelum keberangkatan.
Saat ini seluruh jemaah haji Indonesia mulai bersiap menghadapi fase Armuzna yang dikenal sebagai rangkaian ibadah paling berat secara fisik selama pelaksanaan haji di Tanah Suci.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan