Tragedi Ambruknya Jembatan Gantung Air Terjun Cunca Wulang Labuan Bajo, 2 Turis Austria Tewas
Nurista Purnamasari• Minggu, 24 Mei 2026 | 20:15 WIB
Proses evakuasi turis Austria yang tewas setelah jembatan gantung Air Terjun Cunca Wulang ambruk. (ISTIMEWA)RADAR SURABAYA – Dunia pariwisata Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), berduka sekaligus mendapat tamparan keras. Dua orang wisatawan mancanegara (wisman) asal Austria tewas mengenaskan setelah jembatan gantung di objek wisata Air Terjun Cunca Wulang ambruk pada Minggu (24/5) siang.Tragedi ini menjadi sorotan tajam netizen dan pelaku industri pariwisata. Pasalnya, insiden maut terjadi di tengah upaya pemerintah yang gencar mempromosikan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata premium. Kelayakan fasilitas publik dan jaminan keamanan wisata Labuan Bajo kini dipertanyakan.
Kronologi Ambruknya Jembatan Maut
Kedua korban diidentifikasi bernama Jurgen, 54, dan Astrid, 56. Berdasarkan data keimigrasian, pasangan ini masuk ke Indonesia secara legal pada 14 Mei 2026 melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, dengan menggunakan visa wisata.Baca Juga: Impor Kedelai Jatim Meledak 23,8%, Harga Tahu Tempe Terancam Naik?Malapetaka terjadi saat keduanya tengah menikmati jalur trekking menuju Air Terjun Cunca Wulang. Saat berjalan di atas jembatan gantung, papan kayu yang mereka pijak mendadak hancur dan patah. Korban langsung terjatuh dari ketinggian sekitar 10 meter dan menghantam bebatuan sungai di bawahnya.Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, mengonfirmasi bahwa kedua korban langsung meninggal dunia di lokasi kejadian akibat benturan keras. Baca Juga: Virus Newcastle Bermutasi, Kini Serang Berbagai Jenis BurungTim SAR gabungan membutuhkan waktu cukup lama untuk mengevakuasi jenazah karena medan yang cukup sulit."Keduanya langsung terjatuh ke bawah, tepat di bebatuan. Jenazah dipastikan sudah dalam kondisi meninggal dunia saat tim SAR gabungan tiba di lokasi sekira pukul 13.17 WITA. Jasad korban harus digotong manual dengan berjalan kaki selama 30 menit menuju mobil jenazah untuk dibawa ke RSUD Merombok," ujar Fathur Rahman, Minggu (24/5).Insiden ini disesalkan banyak pihak karena kedua turis tersebut diketahui telah mematuhi seluruh prosedur wisata, mulai dari melapor resmi ke loket penjagaan hingga berjalan di jalur trekking resmi yang disediakan pengelola.Baca Juga: Kepulangan Relawan Global Sumud Flotilla Disambut Haru, Menlu Apresiasi Dukungan Negara SahabatMenanggapi rapor merah bagi keamanan wisata Labuan Bajo ini, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat berjanji akan melakukan evaluasi besar-besaran. Pihak pemda mengaku kecolongan terkait kondisi kelayakan infrastruktur di lokasi kejadian.Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, menegaskan bahwa pemda bertanggung jawab penuh dalam mendampingi proses evakuasi hingga pengurusan berkas medis korban. Ia menjanjikan audit total terhadap seluruh fasilitas wisata di Manggarai Barat agar tragedi serupa tidak terulang kembali.Baca Juga: ART Pencuri Emas dan Uang Majikan di Surabaya Ditangkap, Begini Pengakuannya"Langkah pemerintah kabupaten akan melakukan evaluasi. Tidak hanya yang ada di Cunca Wulang, tetapi di semua destinasi yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah Kabupaten Manggarai Barat. Kita berharap kejadian serupa tidak akan terjadi lagi di kemudian hari. Soal kondisi jembatan sebelumnya, belum ditahu pasti kondisinya," aku Yulianus Weng secara terbuka.Selain evaluasi infrastruktur, pemerintah daerah bersama otoritas terkait kini tengah sibuk mengurus proses pemulangan jenazah kedua warga negara asing tersebut.Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo, Charles Christian Mathaus, menyatakan pihaknya bergerak cepat dengan berkoordinasi bersama Direktorat Imigrasi NTT, pihak pusat, serta jajaran konsuler Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).Baca Juga: Rumah Meledak Akibat Petasan, Seorang Warga Kepanjen Malang Tewas"Besok mungkin ada PIC (Person in Charge) dari sana. Sementara yang kami siapkan adalah surat-surat yang dibutuhkan sebagai data formil ke pihak kedutaan. Nanti akan diterbitkan notifikasi sebagai pemberitahuan ketika ada kejadian yang menimpa warga negaranya," terang Charles. (kmp/nur) Editor : Nurista Purnamasari