Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sejarah Haji di Nusantara: Berangkat dengan Kapal Laut, Tempuh Perjalanan berbulan-bulan

Nurista Purnamasari • Jumat, 22 Mei 2026 | 05:05 WIB
Ilustrasi jemaah haji Nusantara yang berangkat ke tanah suci dengan menaiki kapal. (ISTIMEWA)
Ilustrasi jemaah haji Nusantara yang berangkat ke tanah suci dengan menaiki kapal. (ISTIMEWA)

RADAR SURABAYA - Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib bagi umat Muslim yang mampu. Haji juga menjadi perjalanan spiritual yang didambakan umat Islam.
Di Indonesia, sejarah pemberangkatan haji memiliki perjalanan panjang yang penuh tantangan. Dari perjalanan laut berbulan-bulan hingga sistem modern yang kini lebih teratur, haji menjadi bagian penting dari sejarah spiritual sekaligus sosial bangsa.

Awal Sejarah Haji Nusantara

Jejak historis menunjukkan bahwa perjalanan religi masyarakat Indonesia ke tanah suci sudah berlangsung jauh sebelum kedatangan penjajahan Belanda. 
Baca Juga: Haji 2026: Embarkasi Surabaya Tutup Keberangkatan Nasional ke Tanah Suci, 43.999 Jemaah Berangkat, 30 Orang Batal
Martin van Bruinessen, seorang peneliti asal Belanda yang mendalami sejarah Islam Nusantara, dalam artikelnya yang berjudul "Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji", memberikan gambaran menarik tentang fenomena haji dari Indonesia. 
Kapal penuh dengan jemaah haji nusantara yang akan mengantarkan mereka menuju Arab Saudi di era kolonial. (ISTIMEWA)
Kapal penuh dengan jemaah haji nusantara yang akan mengantarkan mereka menuju Arab Saudi di era kolonial. (ISTIMEWA)
Penelitiannya mengungkap bahwa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, jumlah orang Nusantara yang berhaji mencapai 10 hingga 20 persen dari seluruh jemaah haji dunia.
Yang lebih mencengangkan lagi, pada dasawarsa 1920-an, sekitar 40 persen dari seluruh jemaah haji di dunia berasal dari Indonesia. 
Baca Juga: Pemkot Surabaya Pastikan PPPK Tidak Dipecat, Belanja Pegawai Sudah Aman
Angka ini menunjukkan betapa kuatnya semangat spiritual masyarakat Indonesia dalam menunaikan ibadah haji, meskipun harus menghadapi berbagai rintangan yang luar biasa berat.
Banyak orang Indonesia yang tidak hanya sekadar menunaikan haji, tetapi juga memilih untuk tinggal bertahun-tahun atau bahkan menetap di Makkah. Tujuan utama mereka adalah menuntut ilmu agama yang lebih mendalam. 
Komunitas Indonesia di Makkah pada masa itu cukup besar hingga bahasa Melayu menjadi bahasa kedua di kota suci tersebut setelah bahasa Arab pada tahun 1860.
Baca Juga: Jejak Sekolah Tionghoa Shin Lih di Kawasan Kasin Malang, Dulu Paling Berpengaruh
Tradisi berhaji masyarakat Nusantara sudah ada sejak abad ke-13. Catatan sejarah menyebutkan tokoh bernama Bratalegawa sebagai orang pribumi pertama yang berhaji sekitar tahun 1380. 
Pada abad ke-17, Pangeran Abdul Dohhar, putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, juga berangkat haji pada tahun 1630 menggunakan kapal laut. 
Perjalanan kala itu memakan waktu hingga dua tahun, melewati jalur perdagangan internasional yang penuh risiko.
Baca Juga: Pelaku Perampokan Toko Emas di Wonokromo Surabaya Ambil Anting hingga Sejumlah Mata Uang Korea Milik Korban
Perjalanan haji pada abad ke-19 dan ke-20 merupakan petualangan yang penuh risiko dan memerlukan keberanian luar biasa. 
Martin van Bruinessen menggambarkan bahwa calon jemaah harus menghadapi perjalanan laut yang berbahaya dan memakan waktu yang sangat lama. 
Mereka harus bergantung sepenuhnya pada perahu layar yang sangat tergantung pada kondisi musim.
Baca Juga: Surabaya Kian Mantap Jadi Kota Sport Tourism, Crystalin RunXperience 2026 Targetkan 15 Ribu Pelari
Proses perjalanan haji dimulai dengan menggunakan perahu layar, kemudian dilanjutkan dengan menumpang berbagai kapal dagang secara bergantian. 
Para calon jemaah harus berpindah dari satu kapal ke kapal lain, mencari transportasi yang bisa membawa mereka lebih dekat ke tujuan akhir mereka.
Aceh memegang peranan penting dalam perjalanan haji masyarakat Indonesia. Sebagai pelabuhan terakhir di Indonesia sebelum melanjutkan perjalanan ke luar negeri, Aceh menjadi tempat persinggahan wajib bagi para calon jemaah, sebelum jemaah melanjutkan perjalanan ke India dan kemudian ke Jeddah.
Baca Juga: Pastor Joseph Wang Terusir dari Tiongkok lalu Dirikan Sekolah Hwa Ying di Kota Malang
Peran strategis inilah yang memberikan Aceh julukan "Serambi Mekkah", sebuah gelar yang menunjukkan posisinya sebagai gerbang spiritual menuju tanah suci.

Pemberangkatan Haji Reguler

Sejarah resmi pemberangkatan haji reguler Indonesia dimulai pada tahun 1888, dengan jumlah jemaah mencapai 6.044 orang. 
Angka ini menunjukkan antusiasme besar umat Islam di Hindia Belanda untuk menunaikan ibadah haji meski menghadapi perjalanan panjang dan berbahaya.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Incar Empat Besar saat Hadapi Persik Kediri di Laga Penutup Super League
Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda mulai mencatat keberangkatan jemaah haji secara administratif. 
Hal ini dilakukan untuk mengontrol arus perjalanan sekaligus mengawasi pergerakan umat Islam yang dianggap berpotensi memunculkan gerakan politik.
Seiring perkembangan teknologi, kapal uap mulai digunakan sehingga perjalanan menjadi lebih cepat dan relatif amanAda
Baca Juga: Rupiah Melemah, DPRD Surabaya Ingatkan Warga Rem Gaya Hidup Konsumtif Jelang Idul Adha
Meski demikian, perjalanan tetap memakan waktu berbulan-bulan dan penuh risiko, termasuk wabah penyakit menular yang sering menyerang jemaah di tengah laut.

Peran Sosial dan Politik

Selain sebagai ibadah, haji juga memiliki dimensi sosial dan politik. Pada masa kolonial, pemerintah Belanda khawatir arus jemaah haji akan memperkuat jaringan Islam internasional dan memunculkan gerakan perlawanan. 
Karena itu, keberangkatan haji diawasi ketat, bahkan dikenakan pajak dan aturan administratif yang ketat.
Baca Juga: Bukan Lagi Tabu, Ini Pentingnya Memberikan Pendidikan Seks Sejak Dini pada Anak
Namun, bagi umat Islam Nusantara, haji tetap menjadi simbol kesalehan sekaligus status sosial. Gelar “Haji” yang disandang sepulang dari Tanah Suci menjadi identitas penting di masyarakat.
Dari perjalanan berbulan-bulan menggunakan kapal layar hingga sistem modern yang kini lebih teratur, sejarah haji di Indonesia mencerminkan semangat umat Islam untuk menunaikan rukun Islam kelima. 
Pemberangkatan haji sejak 1888 menjadi tonggak penting yang menandai keterlibatan Indonesia dalam arus besar ibadah haji dunia. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari
#sejarah haji indonesia #sejarah haji nusantara #Haji 2026 #jemaah haji #musim haji