RADAR SURABAYA – Keluhan hipertensi dan dehidrasi masih menjadi masalah kesehatan utama jemaah haji di Embarkasi Surabaya.
Meski demikian, secara umum kondisi kesehatan jemaah tahun ini dinilai lebih baik dibandingkan musim haji sebelumnya.
Sejak pemberangkatan jemaah haji menuju Tanah Suci selama 13 hari terakhir, tim kesehatan mencatat bahwa mayoritas jemaah dalam kondisi prima.
Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan.
Katim Kesehatan Embarkasi Haji Surabaya, dr. Gesta Robi Farmawan, mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan ke klinik Asrama Haji mencapai 375 orang dalam kurun waktu lebih dari sepekan.
Baca Juga: Konsistensi Jadi Kunci, Pola Makan Teratur Lebih Efektif Turunkan Berat Badan
“Dalam sehari, rata-rata ada sekitar 30 jemaah yang datang berobat. Keluhan terbanyak adalah hipertensi, diikuti sakit kepala dan dehidrasi,” ujarnya, Minggu (3/5).
Menurutnya, perbaikan kondisi kesehatan ini tidak lepas dari proses skrining kelayakan berangkat atau istithaah yang semakin ketat dan teliti dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski sebagian besar jemaah dalam kondisi sehat, beberapa di antaranya masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Penyakit yang paling banyak diderita adalah anemia atau kurang darah.
“Ada beberapa jemaah yang keberangkatannya tertunda karena alasan kesehatan, tetapi jumlahnya tidak signifikan. Rentang usia pasien juga bervariasi, tidak hanya didominasi lansia,” tambahnya.
Berdasarkan data Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya, tercatat 10 jemaah masih tertunda keberangkatannya dan menjalani perawatan di RS Haji Surabaya.
Namun demikian, sebagian besar jemaah yang dirawat hanya membutuhkan waktu pemulihan singkat, yakni sekitar satu hingga dua hari.
Baca Juga: Lebih dari Separo SWK di Surabaya Sepi dan Mati, Dewan Minta Segera Ada Solusi
Di sisi lain, kondisi kesehatan jemaah yang telah tiba di Madinah juga dilaporkan stabil dan lebih baik dibandingkan tahun lalu.
Pemantauan kesehatan terus dilakukan secara berkala untuk memastikan kondisi tetap terjaga selama menjalankan ibadah.
“Kami menerima laporan bahwa kondisi jemaah di Madinah cukup baik. Pemantauan rutin terus dilakukan,” kata dr. Gesta.
Ia pun mengimbau jemaah agar menjaga kondisi tubuh dengan cukup istirahat, disiplin mengonsumsi obat, serta mengatur aktivitas agar tidak terlalu padat menjelang keberangkatan.
Menurutnya, faktor kelelahan dan perubahan cuaca menjadi penyebab utama gangguan kesehatan.
Perbedaan tingkat kelembapan udara antara Indonesia dan Arab Saudi juga menuntut tubuh beradaptasi dengan cepat.
Sementara itu, Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, memastikan bahwa jemaah yang tertunda tetap akan diberangkatkan setelah dinyatakan pulih.
“Pemeriksaan kesehatan memang sudah dilakukan sebelum keberangkatan, tetapi kondisi seseorang bisa berubah. Karena itu, pemeriksaan ulang sangat penting,” jelasnya.
Ia menegaskan, jemaah yang telah memenuhi syarat kesehatan akan diberangkatkan dalam kelompok susulan. Sedangkan yang belum pulih akan menjalani perawatan hingga kondisinya memungkinkan untuk berangkat.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan