RADAR SURABAYA - Perjalanan panjang dari Kampung Tokojaeng, Ile Ape, di Pulau Lembata, NTT, yang dikenal gersang dan minim sumber daya alam, mengantar Thomas Tokan Pureklolon meraih gelar profesor. Momentum pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Politik di Universitas Pelita Harapan (UPH) Tangerang menjadi penanda ziarah intelektual yang menginspirasi banyak kalangan.
Putra Gabriel Boton (alm) dan Theresia Tuto (alm) itu menempuh pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Ledalero, lalu ditahbiskan sebagai imam pada 5 Oktober 1996. Latar belakang sederhana dari wilayah kering tak menghalangi tekadnya menembus dunia akademik.
Baca Juga: Viral! Dugaan Kekerasan di Little Aresha Daycare Umbulharjo, Korban Jadi Trauma
Pada 18 Januari 2000, dia lolos seleksi pascasarjana Magister Ilmu Politik dengan beasiswa penuh. Dalam waktu bersamaan, dia juga menempuh Magister Manajemen Sumber Daya Manusia. Keduanya rampung pada 2004.
Karier akademiknya berlanjut sebagai dosen pascasarjana Ilmu Politik di Universitas Indonesia selama lebih dari satu dekade, sebelum kemudian berkiprah di UPH sejak 2009. Di tengah kesibukan mengajar, dia menyelesaikan program doktoral pada 2011.
Sebagai akademisi, Thomas produktif menulis di jurnal nasional hingga publikasi bereputasi internasional (Scopus Q1–Q3), serta menghasilkan sekitar 20 buku tentang pemikiran politik. Rekam jejak ini memperkuat reputasinya sebagai intelektual yang konsisten mengkaji etika dan makna kekuasaan.
Baca Juga: 4.940 Jemaah Embarkasi Surabaya Sudah Berangkat ke Tanah Suci, Dua Orang Tertunda Akibat Sakit
Dalam orasi ilmiahnya, dia menyoroti tantangan politik Indonesia. Menurut dia, kekuasaan kerap terjebak dalam pragmatisme, melemahnya etika publik, dan polarisasi.
“Ketika kekuasaan dipahami sebagai alat untuk memenangkan kepentingan, politik berubah menjadi arena konflik identitas,” ujar Thomas.
Dia menekankan pentingnya orientasi kekuasaan pada bonum commune atau kebaikan bersama. Menurut dia, rakyat merupakan “gudang” otoritas politik yang mempercayakan mandat kepada pemerintah di bawah hukum. Karena itu, hukum kodrat perlu diterjemahkan ke dalam aturan konkret agar bisa dipahami dan dijalankan seluruh masyarakat.
Pengukuhan ini memantik banyak apresiasi. Sejumlah akademisi dan tokoh masyarakat menilai capaian Thomas sebagai bukti bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk meraih prestasi tertinggi. Dari tanah gersang Ile Ape, lahir seorang profesor yang gagasannya kini memberi warna bagi diskursus politik nasional.(*)
Editor : Lambertus Hurek