Diajak Muncak, Balita 15 Bulan Alami Hipotermia di Gunung Ungaran Semarang
Nurista Purnamasari• Senin, 13 April 2026 | 14:33 WIB
Tim SAR dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Semarang memberikan pertolongan kepada balita 1,3 tahun yang hipotermia di jalur pendakian Gunung Ungaran, Jawa Tengah. (Basarnas Semarang)RADAR SURABAYA - Jagat media sosial dihebohkan oleh beredarnya video amatir yang merekam detik-detik evakuasi seorang balita berusia 15 bulan di jalur pendakian Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (11/4), ketika cuaca ekstrem di kawasan puncak Bondolan memicu kondisi darurat medis berupa hipotermia pada seorang anak kecil.Kejadian bermula saat satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan balita melakukan pendakian hingga mencapai puncak Bondolan. Baca Juga: Hati-Hati! Pelaku Curanmor Sasar Parkiran Masjid di Surabaya, Motor Raib saat Ditinggal SalatNamun, hujan deras yang turun secara tiba-tiba menyebabkan suhu di lokasi menurun drastis. Kondisi tersebut membuat balita mengalami gejala hipotermia, yakni penurunan suhu tubuh secara signifikan.Tim SAR gabungan dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Semarang yang berada di lokasi segera memberikan pertolongan pertama.Baca Juga: Viral! Menyeggol Kabel yang Melintang di Jalan, Kru Sound Horeg di Pati Tewas Kesetrum Saat HujanMereka melakukan tindakan penghangatan dan perlindungan dari cuaca dingin untuk menstabilkan kondisi korban. Setelah dinilai cukup stabil, korban kemudian dievakuasi turun menuju Basecamp Perantunan. Balita tersebut berhasil mencapai basecamp dalam keadaan sadar dan langsung diserahkan kembali kepada pihak keluarga untuk penanganan lebih lanjut.Baca Juga: Wilayah Kotapraja Surabaya Diperluas Tahun 1965, Lima Kecamatan di Kabupaten Surabaya Gabung ke KotaKepala Kantor SAR Semarang, Heru Suhartanto, menyampaikan apresiasi atas kerja cepat tim gabungan. “Kami bersyukur korban berhasil diselamatkan. Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar lebih berhati-hati saat membawa anak kecil mendaki gunung, terutama di musim hujan,” ujarnya.Basarnas mengingatkan bahwa faktor cuaca, kesiapan fisik, serta kelengkapan logistik dan perlengkapan perlindungan cuaca harus menjadi prioritas utama. Baca Juga: Seorang Pria Ditemukan Tewas di Bawah Tol Waru-Juanda Siwalankerto Surabaya, Ini Ciri-CirinyaPendakian dengan anak-anak memerlukan perencanaan matang agar tidak menimbulkan risiko fatal.Peristiwa tersebut viral di jagat maya dan menjadi perbincangan, banyak netizen mengomentarinya.“Ohh biar bisa bikin story “bibit pendaki sejak dini”? Gitu yaa? Tololl nya natural sekali,” komentar akun @one***.Baca Juga: Tak Perlu Mahal, Ini 5 Makanan yang Bantu Atasi Jerawat dari Dalam“Setahun aja di bawa ke pasar malam pulang-pulanh berisiko masuk angin. Apalagi di bawa mendaki gunung. Pinter banget ortunya,” tulis akun @dhe***.“Untungnya selamat ya Dek.. coba kalo lewat, ortumu tetep mendaki lagi itu..,” komentar akun @tse***.“Biar keliatan keren dan bisa di update di medsos, tapi tidak memikirkan bahayanya untuk si buah hati, jangan mikir enaknya pikirin dulu paitnya sebelum melakukan segala hal.......,” tulis akun @ded***.Baca Juga: Kanwil Kemenhaj Jatim Bersama Lintas Sektor Siap Layani Jemaah di Asrama Haji Surabaya, Makkah Route Sudah 70 Persen“Urgency nya apa umur segitu naik gunung?,” komentar akun @dev***. “Tolong blacklist org tsb biar ga muncak lagi tolong,” tulis akun @meg***. (nur) Editor : Nurista Purnamasari