Kasus TBC Tembus 1 Juta, Alarm Serius bagi Sistem Kesehatan Nasional
Mus Purmadani• Minggu, 12 April 2026 | 18:47 WIB
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Benjamin Kristianto. (ISTIMEWA)RADAR SURABAYA – Lonjakan kasus Tuberkulosis (TBC) di Indonesia yang kini menembus angka sekitar 1 juta kasus menjadi sorotan serius. Data tersebut dinilai sebagai peringatan keras bagi seluruh pemangku kebijakan untuk segera memperkuat langkah penanganan.Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Benjamin Kristianto menegaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahaya yang membutuhkan respons cepat dan terstruktur.Baca Juga: Tragedi Benteng Laferriere: 30 Orang Tewas Berdesakan Saat Perayaan Tahunan di Situs Warisan Dunia Haiti“Ini bukan angka kecil. Satu juta kasus TBC menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi ancaman nyata yang harus ditangani secara serius dan sistematis,” ujarnya, Minggu (12/4).Menurutnya, tingginya angka kasus TBC masih dipengaruhi berbagai persoalan klasik yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Mulai dari kepadatan penduduk, kondisi sanitasi yang belum merata, hingga rendahnya kesadaran masyarakat dalam melakukan deteksi dini.Baca Juga: Bakal Diuji Coba di Indonesia, Vaksin TBC Bill Gates Diklaim Aman, Sudah Melewati Dua Uji Klinis Benjamin menekankan, pendekatan penanganan TBC tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral. Ia mendorong adanya sinergi lintas sektor, baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga partisipasi aktif masyarakat.“Penanganan TBC tidak cukup hanya di sektor kesehatan. Harus ada kolaborasi dengan sektor lain, termasuk perbaikan lingkungan, edukasi masyarakat, serta penguatan layanan kesehatan di tingkat bawah,” tegasnya.Khusus di Jawa Timur, ia mengingatkan pemerintah daerah agar tidak lengah. Dengan jumlah penduduk yang besar, potensi penyebaran TBC dinilai cukup tinggi apabila tidak diantisipasi melalui langkah konkret.Baca Juga: 189 Calon Ketua DPC PKB se-Jatim Jalani Seleksi AwalIa pun mendorong penguatan program skrining aktif, terutama di wilayah dengan tingkat risiko tinggi. Selain itu, ketersediaan obat serta kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan menjadi faktor krusial yang harus terus diawasi.“Jangan sampai pasien putus obat. Itu berbahaya karena bisa memicu resistensi. Maka pendampingan dan pengawasan harus diperkuat,” jelasnya.Lebih lanjut, Benjamin berharap tingginya angka kasus TBC saat ini dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat upaya eliminasi penyakit tersebut, sejalan dengan target nasional.Baca Juga: Lagi, Pelaku Curanmor Nyaru Jemaah Beraksi di Masjid Manyar Sabrangan Surabaya“Ini harus menjadi alarm bagi kita semua. Jangan sampai TBC terus menjadi beban kesehatan yang berkepanjangan di Indonesia,” pungkasnya. (mus) Editor : Nurista Purnamasari