Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Faktor Kunci Memperkuat Upaya Pencegahan Stunting

Nofilawati Anisa • Jumat, 6 Maret 2026 | 10:33 WIB

DIUKUR DULU: Program Pendampingan Gizi 2025 menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting di Karawang, Batang, dan Pasuruan.
DIUKUR DULU: Program Pendampingan Gizi 2025 menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting di Karawang, Batang, dan Pasuruan.

RADAR SURABAYA - Program Pendampingan Gizi 2025 sudah berakhir. Dilaksanakan selama enam bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026, program ini menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader.

Program yang sama juga melakukan pembekalan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan.

Nestle Indonesia menutup program ini bersama seluruh mitra lintas sektor yang berperan dalam pelaksanaannya.

Mulai Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), TP PKK Kabupaten Batang, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan, serta Edu Farmers selaku mitra field officer.

Berdasarkan pemantauan bersama mitra akademisi, program menunjukkan penurunan prevalensi underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5 persen.

Disertai perbaikan indikator pertumbuhan anak serta peningkatan pemahaman keluarga terkait pemenuhan energi dan gizi harian.

Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN), Yuni Hastutiningsih mengatakan, kolaborasi lintas sektor merupakan faktor kunci dalam memperkuat upaya pencegahan stunting.

“Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, seperti yang dilakukan oleh PT Nestle Indonesia, memiliki nilai strategis dalam memperluas jangkauan intervensi, mempercepat perubahan perilaku, serta memastikan keberlanjutan program,” ujarnya, Jumat (6/3).

“Oleh karena itu, mari kita terus memperkuat sinergi menjaga konsistensi dan memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak nyata bagi keluarga Indonesia,”
sambungnya.

Yuni melanjutkan, selain perbaikan indikator pertumbuhan, program ini juga meningkatkan kapasitas keluarga dan kader dalam menerapkan praktik pemenuhan energi anak, variasi konsumsi, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin.

“Konsistensi pendampingan kader memastikan intervensi tidak berhenti pada pemberian asupan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan makan yang lebih baik di tingkat rumah tangga sebagai bagian dari upaya pencegahan masalah gizi anak,” ungkapnya.

Marketing Manager PT Nestle Indonesia, Ankur Mittal menegaskan, keberhasilan program tidak hanya tercermin dari capaian angka, tetapi dari perubahan perilaku yang berkelanjutan.

“Kami percaya tantangan gizi anak tidak dapat diselesaikan melalui upaya jangka pendek,” katanya.

Ankur menjelaskan, Program Pendampingan Gizi ini dirancang dengan prinsip intervensi berbasis bukti, monitoring rutin, dan kemitraan lintas sektor.

“Bagi kami, dampak terpenting tidak hanya terlihat dari perbaikan indikator pertumbuhan, tetapi juga dari perubahan perilaku berkelanjutan yang terjadi di tingkat keluarga dan komunitas,” jelasnya.

“Melalui kombinasi pemenuhan energi dan protein yang mudah diakses, edukasi keluarga, serta pemberdayaan kader, kami melihat perubahan positif pada pertumbuhan anak sekaligus praktik gizi keluarga di tingkat rumah tangga,” sambungnya.

Program Pendampingan Gizi 2025 berfokus pada upaya pencegahan melalui deteksi dini anak dengan berat badan stagnan atau sulit naik.

Intervensi dilakukan dengan mengombinasikan pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi esensial berupa pemberian satu butir telur dan satu gelas susu setiap hari selama enam bulan.

Disertai edukasi keluarga dan pemantauan rutin pertumbuhan anak.

Pendekatan pendampingan keluarga ini memungkinkan intervensi dilakukan secara berkelanjutan, adaptif, dan sesuai kebutuhan di lapangan.

Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof. Ali Khomsan menjelaskan pendekatan sederhana yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak signifikan.

Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan indikator berat dan tinggi badan anak, serta penurunan prevalensi underweight sebesar 22,5 persen.

“Ini menegaskan bahwa intervensi berbasis protein hewani yang dipadukan dengan pemenuhan energi harian dan edukasi keluarga, jika dilakukan secara konsisten dan terpantau, dapat memberikan dampak nyata. Berat badan stagnan merupakan indikator awal risiko gangguan pertumbuhan, sehingga pendekatan preventif menjadi sangat penting,” paparnya. (nis/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#nestlé indonesia #anak berisiko stunting #Program Pendampingan Gizi 2025 #ibu menyusui #pasuruan #batang #bkkbn #ibu hamil #karawang