Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Radar Peringatan Senilai Rp 17 Triliun Milik AS di Qatar Diduga Dilumpuhkan Iran

Nurista Purnamasari • Kamis, 5 Maret 2026 | 09:20 WIB

 

Radar peringatan dini milik AS di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, senilai Rp 17 triliun dihancurkan Iran.
Radar peringatan dini milik AS di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, senilai Rp 17 triliun dihancurkan Iran.

RADAR SURABAYA - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengklaim berhasil melumpuhkan radar peringatan dini milik Amerika Serikat di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.

Radar strategis bernilai sekitar USD 1,1 miliar atau Rp 17 triliun itu disebut menjadi target utama dalam rangkaian serangan balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Serangan ini menyoroti kerentanan infrastruktur sensor dan komunikasi militer AS yang selama ini menjadi “mata dan telinga” sistem pertahanan rudal Washington di kawasan.

Menurut laporan New York Times, setidaknya tujuh pangkalan militer AS di Teluk Persia mengalami kerusakan pada radar dan sistem komunikasi antara akhir Februari hingga awal Maret 2026.

Serangan Iran dilakukan setelah operasi besar-besaran AS dan Israel terhadap Teheran, termasuk serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Qatar mengakui dua rudal balistik Iran berhasil menembus pertahanan dan mengenai area pangkalan Al Udeid, menyebabkan delapan orang terluka akibat pecahan.

Target Utama Iran

Dua aset krusial menjadi sasaran serangan, yakni radar AN/FPS-132 Block 5 milik US Space Force di Al Udeid Air Base, Qatar. Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim rudal balistik presisi telah menghancurkan radar tersebut.

Selain itu juga markas Fifth Fleet AS di Manama, Bahrain, di mana drone Shahed menghantam radome pelindung antena serta dua terminal SATCOM AN/GSC-52B. Video ledakan yang diverifikasi media internasional menunjukkan struktur besar roboh total.

Kerusakan serupa juga dilaporkan di pangkalan AS di Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, termasuk potensi rusaknya radar THAAD.

Analis militer memperkirakan total kerugian AS dalam empat hingga lima hari pertama konflik mencapai hampir USD 2 miliar atau Rp 31 triliun.

Pengamat militer Douglas Macgregor menyebut AS kini “operating blind” atau beroperasi dalam keadaan buta sementara di kawasan Teluk.

“Serangan ini bukan hanya simbolis, tapi menargetkan sistem sensor yang menjadi tulang punggung pertahanan AS. Tanpa radar, operasi militer mereka di Teluk akan terganggu signifikan,” ujar Macgregor.

Serangan Iran terhadap radar strategis AS di Qatar memperlihatkan eskalasi konflik yang semakin serius. Kehilangan aset sensor bernilai triliunan rupiah berpotensi melemahkan posisi Washington dan sekutunya di kawasan Teluk.

Selain itu, keberhasilan rudal Iran menembus pertahanan Al Udeid menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas sistem pertahanan udara AS di Timur Tengah. (dtk/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#radar #amerika serikat #iran #AS #drone #Konflik Geopolitik #timur tengah