RADAR SURABAYA – Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menggelar rukyatul hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2). Hasil pemantauan hilal ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang digelar pada malam harinya.
Di Jawa Timur, rukyatul hilal dilaksanakan mulai pukul 17.00 WIB di 21 kabupaten/kota. Lokasi pemantauan tersebar di antaranya Kota Blitar, Pacitan, Banyuwangi, Probolinggo, Tuban, Madiun, Jombang, Gresik, Lumajang, Jember, Trenggalek, Sampang, Ngawi, Pasuruan, Malang, Bondowoso, Mojokerto, Sumenep, Lamongan, dan Ponorogo.
Baca Juga: Mengajarkan Puasa pada Anak Secara Psikologis: Bertahap, Positif, Tanpa Ancaman
Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Jawa Timur, Munir, menjelaskan bahwa penentuan awal Ramadan mengacu pada kriteria imkanur rukyat yang disepakati Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
“Hilal dinyatakan memenuhi kriteria imkanur rukyat apabila memiliki tinggi hilal mar’i minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat matahari terbenam,” jelas Munir.
Ia menyebutkan, secara astronomi posisi hilal pada hari ini masih berada di bawah kriteria yang ditetapkan. Tinggi hilal baru mencapai sekitar 2 derajat, sehingga belum memenuhi syarat visibilitas.
Baca Juga: Puncak Musim Hujan, Selama Bulan Puasa hingga Lebaran mendatang Diprediksi Hujan Hampir Setiap Hari
“Secara astronomi hilal belum memenuhi 3 derajat, sehingga tidak terlihat. Kemungkinan 1 Ramadan atau awal puasa jatuh pada Kamis, 19 Februari,” ujarnya.
Meski demikian, Munir menegaskan keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat. “Apapun hasil rukyat, baik terlihat maupun tidak, akan menjadi acuan dalam sidang isbat,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Badan Hisab Rukyat (BHR) Jawa Timur, M. Fauzi, menyampaikan bahwa posisi hilal saat ini masih berada di bawah ufuk.
Baca Juga: SEA Games 2025: Panahan Compound Putri Indonesia Raih Emas, Akhiri Puasa 12 Tahun
“Posisi hilal masih minus. Bulan terbenam lebih dahulu dibanding matahari, sehingga tidak ada hilal yang bisa diamati. Jadi kemungkinan puasa jatuh 19 Februari,” jelasnya.
Ia menambahkan, rukyatul hilal tetap dilakukan karena ijtima atau konjungsi terjadi pada hari ini. Selain sebagai bagian dari prosedur penetapan awal bulan hijriah, pengamatan juga penting untuk pengembangan data dan akurasi ilmu hisab.
“Ini juga bagian dari pengembangan ilmu hisab untuk memperbaiki data dan sistem yang ada,” ungkapnya.
Di sisi lain, terdapat perbedaan penetapan awal Ramadan. Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu (18/2) dan akan melaksanakan salat tarawih pada Selasa (17/2) malam. Sementara pemerintah diperkirakan menetapkan awal puasa pada Kamis (19/2).
Munir mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan di tengah perbedaan tersebut.
“Perbedaan ini adalah sesuatu yang indah. Mari kita jaga kerukunan dan saling menghormati saudara kita yang memulai puasa lebih dulu. Dengan begitu, Indonesia tetap satu dalam kebersamaan,” pesannya.
Senada dengan itu, Fauzi juga mengingatkan agar masyarakat tidak memperbesar perbedaan.
“Perbedaan itu biasa. Yang terpenting tetap menjaga kebersamaan dan kerukunan,” pungkasnya. (rmt/vga)
Editor : Vega Dwi Arista