Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tak Patuh Minum Obat Bisa Berujung Fatal, Guru Besar Unair Ungkap Dampak dan Solusinya

Rahmat Sudrajat • Senin, 16 Februari 2026 | 06:30 WIB
Guru Besar Ilmu Farmasi Praktis Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. apt. Yunita Nita, S.Si., M.Pharm.
Guru Besar Ilmu Farmasi Praktis Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. apt. Yunita Nita, S.Si., M.Pharm.

RADAR SURABAYA – Ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat masih menjadi persoalan serius di dunia kesehatan.

Dampaknya tidak hanya memperburuk kondisi pasien, tetapi juga meningkatkan beban pembiayaan layanan kesehatan.

Hal ini disampaikan Guru Besar Ilmu Farmasi Praktis Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. apt. Yunita Nita, S.Si., M.Pharm.

Menurutnya, obat berfungsi sebagai sarana pencegahan, penyembuhan, hingga peningkatan derajat kesehatan.

Namun, efektivitas terapi sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam mengikuti aturan penggunaan obat sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Faktor Penyebab Ketidakpatuhan Minum Obat

Prof. Yunita menjelaskan, ketidakpatuhan konsumsi obat dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor pasien, jenis terapi, sistem layanan kesehatan, hingga kondisi sosioekonomi.

“Ketidakpatuhan bisa bersifat disengaja ketika pasien menolak atau mengubah pengobatan, dan tidak disengaja ketika pasien gagal mengikuti pengobatan meski berniat melakukannya,” ujarnya, Minggu (15/2).

Pada penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit ginjal, ketidakpatuhan dapat mempercepat kerusakan organ.

Sementara pada gangguan kesehatan mental, kondisi tersebut berisiko memperburuk gejala, menurunkan kualitas hidup, meningkatkan angka rawat inap, bahkan memicu tindakan bunuh diri.

Finansial Sistem Kesehatan

Selain berdampak klinis, ketidakpatuhan terhadap terapi juga memicu pemborosan biaya kesehatan. Pasien yang tidak rutin minum obat berpotensi mengalami kekambuhan atau komplikasi, sehingga membutuhkan perawatan lebih intensif dan biaya lebih besar.

Karena itu, Prof. Yunita menekankan pentingnya transformasi peran apoteker dari sekadar berorientasi pada produk menjadi berorientasi pada perawatan pasien (patient-oriented care).

Pendekatan ini dinilai efektif dalam meningkatkan kepatuhan minum obat sekaligus memperbaiki luaran klinis.

Baca Juga: Kurikulum Anti Narkoba Resmi Diluncurkan di Unesa, Mendikdasmen Pastikan Tak Bebani Siswa

Edukasi dan Teknologi Jadi Kunci

Edukasi pasien menjadi strategi utama untuk meningkatkan kepatuhan terapi. Pemahaman yang baik tentang penyakit dan manfaat pengobatan dapat mendorong pasien lebih disiplin menjalani terapi.

“Edukasi pasien melibatkan pemahaman kondisi kesehatan mereka dan pentingnya mematuhi pengobatan. Selain itu, pemberian alat bantu juga sudah banyak dilakukan,” jelasnya.

Di era digital, pemanfaatan teknologi kesehatan juga semakin relevan. Aplikasi seluler, sistem pemantauan elektronik, hingga telemonitoring dapat membantu pasien mendapatkan pengingat minum obat, memantau kepatuhan secara real time, serta membuka ruang intervensi cepat dari tenaga kesehatan.

Upaya kolaboratif antara pasien, apoteker, dan sistem layanan kesehatan menjadi kunci untuk menekan angka ketidakpatuhan konsumsi obat.

Dengan kepatuhan yang lebih baik, kualitas hidup pasien dapat meningkat dan beban sistem kesehatan pun dapat ditekan.(rmt) 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Yunita Nita #fakultas farmasi #Unair #kesehatan #universitas airlangga