RADAR SURABAYA - Seorang siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, yang diduga menjadi pelaku bom molotov di sekolahnya menyimpan banyak benda-benda berbahaya.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melakukan pemeriksaan dan ditemukan sejumlah barang berbahaya berupa bom molotov, petasan, pisau, hingga tas sekolahnya yang penuh dengan tulisan nama pelaku penembakan massal di luar negeri.
Temuan ini menggegerkan warga dan pihak sekolah karena pelaku diduga terpapar ideologi kekerasan dari luar negeri.
Juru Bicara Densus 88 Polri, Kombes Mayndra, menjelaskan bahwa dari tangan pelaku ditemukan lima gas portabel yang direkatkan dengan petasan, paku, dan pisau, serta enam botol berisi bahan bakar minyak dengan sumbu kain (bom molotov).
“Padanya ditemukan beberapa benda berbahaya yakni lima buah gas portabel yang bagian sampingnya direkatkan petasan, paku, dan pisau. Kemudian enam buah botol berisi bahan bakar minyak dan sumbu kain atau bom molotov, dan satu bilah pisau,” kata Mayndra kepada wartawan, Rabu (4/2).
Mayndra menambahkan, terdapat empat petasan yang sempat meledak saat kejadian di sekolah.
Ledakan itu ditujukan untuk memicu bom molotov, dan menyebabkan satu siswa terluka.
Ia juga mengungkapkan bahwa pelaku diduga terinspirasi sejumlah pelaku penembakan massal di luar negeri. “Betul, terinspirasi aksi kekerasan di luar negeri,” ujarnya.
Dalam tas hitam milik pelaku, polisi menemukan tulisan nama-nama pelaku penembakan massal seperti Stephen Paddock (Las Vegas 2017), Adam Peter Lanza (Sandy Hook 2012), Seung-Hui Cho (Virginia Tech 2007), Salvador Ramos (Uvalde 2022), Luca Traini (Macerata 2018), hingga Brenton Tarrant (Christchurch 2019).
Selain itu, terdapat tagar #ZeroDay dan TCC (True Crime Community) yang kerap dikaitkan dengan simbol ekstrem kekerasan nihilistik.
Kapolsek Sungai Raya, AKP Hariyanto, membenarkan adanya insiden pelemparan bom molotov di sekolah tersebut.
“Benar, telah terjadi dugaan pelemparan bom molotov di SMPN 3 Sungai Raya. Terduga pelaku sudah berhasil kami amankan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan serta menjalani pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya, Selasa (3/2).
Peristiwa bermula ketika pelaku melemparkan botol berisi bahan bakar yang disulut api ke arah area sekolah saat jam istirahat, ketika siswa tengah menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Percikan api dan asap sempat muncul, namun pihak sekolah bersama warga sigap melakukan penanganan sehingga api tidak merambat ke bangunan utama.
Akibat insiden tersebut, SMPN 3 Sungai Raya memutuskan menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) sementara waktu. Kebijakan ini diambil karena masih adanya rasa khawatir di kalangan siswa dan guru. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari