RADAR SURABAYA — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) semakin memantapkan langkahnya menuju jajaran Top 300 perguruan tinggi dunia.
Salah satu strategi utama yang ditempuh adalah penguatan riset dan publikasi ilmiah melalui program Strategic Research Grant (SRG) 2026 dengan total alokasi dana mencapai Rp83 miliar.
Program ini dirancang sebagai skema hibah riset nonkompetisi berbasis kinerja keilmuan yang menargetkan peningkatan kualitas riset dosen
sekaligus mendorong lonjakan jumlah publikasi bereputasi internasional, khususnya jurnal Scopus.
Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc., Eng., Ph.D., menegaskan bahwa SRG 2026 bukan sekadar program pendanaan,
melainkan instrumen strategis untuk membangun budaya riset yang lebih produktif, terukur, dan berdampak luas.
“SRG 2026 kami arahkan untuk menghasilkan luaran riset yang terukur dan berdampak nyata, tidak tersebar seperti hibah konvensional yang berbasis kompetisi,” ujarnya, Rabu (14/1).
Target 1.186 Proposal, Fokus Tingkatkan H-Index Dosen
ITS menargetkan 1.186 proposal penelitian rampung direviu hingga akhir Januari 2026 sebelum memasuki tahap pencairan dana.
Skema ini dirancang agar dosen memiliki kesiapan yang matang dalam menghasilkan riset berkualitas tinggi dan meningkatkan H-index, yang menjadi salah satu indikator reputasi akademik global.
Sejumlah tujuan strategis menjadi fokus utama SRG 2026, antara lain peningkatan kualitas dan produktivitas riset dosen, penguatan ekosistem kolaborasi lintas sektor, serta regenerasi peneliti di lingkungan kampus.
Empat Skema Pendanaan SRG 2026
Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS, Prof. Agus Muhamad Hatta, menjelaskan bahwa dana sebesar Rp83 miliar dibagi ke dalam empat skema pendanaan:
Tipe A: Rp30 juta (target publikasi Scopus Q4)
Tipe B: Rp40 juta (target publikasi Scopus Q3)
Tipe C: Rp50 juta (target publikasi Scopus Q2 dan rekomendasi kolaborasi industri)
Tipe D: Rp100 juta (target satu artikel Scopus Q1)
“Skema ini memberi arah yang jelas agar setiap penelitian memiliki target publikasi yang terukur dan sesuai standar internasional,” jelasnya.
Prestasi Riset ITS Menguat di Tingkat Nasional
Kinerja riset ITS juga menunjukkan tren positif secara nasional. Pada 2025, ITS menempati peringkat kedua nasional sebagai perguruan tinggi dengan jumlah proposal Basis Informasi
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) terbanyak yang didanai, yaitu 254 proposal.
Tak hanya itu, ITS juga meraih Gold Winner Anugerah Diktisaintek 2025 pada subkategori Skor Penelitian Tertinggi, menegaskan posisi ITS sebagai salah satu pusat riset unggulan di Indonesia.
Hadapi Tantangan Menuju Top 300 Dunia
Meski mencatat capaian positif, ITS masih menghadapi sejumlah tantangan. Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany, menyebutkan bahwa saat
ini terdapat 157 dosen yang belum memiliki H-index, tingkat sitasi publikasi masih berada di peringkat keempat di antara PTN-BH, serta terbatasnya dukungan bagi dosen magister dalam meningkatkan produktivitas publikasi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, DRPM memperkuat pelaksanaan SRG 2026 melalui berbagai program pendampingan, seperti
pelatihan penulisan proposal dan artikel ilmiah, akses premium Editage Plus, serta layanan proofreading bagi dosen.
“SRG 2026 menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan kualitas publikasi dosen dan memperkuat reputasi riset ITS secara global,” pungkasnya.
Dengan strategi yang terstruktur, dukungan anggaran besar, dan pendampingan intensif bagi para peneliti, ITS optimistis dapat mempercepat
langkah menuju kampus riset kelas dunia serta mengharumkan nama Indonesia di kancah akademik internasional.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan