Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kasus Superflu H2N3 Meningkat, Pakar Tekankan Pentingnya Tes WGS untuk Deteksi Dini

Rahmat Sudrajat • Jumat, 9 Januari 2026 | 20:47 WIB

 

Epidemiolog Windhu Purnomo.
Epidemiolog Windhu Purnomo.

RADAR SURABAYA— Lonjakan kasus superflu akibat virus Influenza A (H2N3) subklade K menjadi perhatian serius dunia kesehatan di Indonesia.

Para ahli menilai pengujian Whole Genome Sequencing (WGS) menjadi kunci penting dalam mendeteksi dan mengendalikan penyebaran virus tersebut secara dini.

Hingga saat ini, tercatat 62 kasus superflu di Indonesia yang tersebar di delapan provinsi, dengan Jawa Timur menjadi wilayah tertinggi, mencatat 23 pasien positif.

Epidemiolog Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, menyatakan bahwa meskipun tingkat fatalitas superflu relatif rendah, penyakit ini tidak boleh dianggap remeh karena daya penularannya lebih cepat dibanding flu biasa.

“Superflu memang tidak tergolong penyakit yang sangat berbahaya, terlihat dari angka hospitalisasi dan fatalitas yang rendah.

Namun, masyarakat tidak boleh meremehkan karena tingkat penularannya cukup tinggi,” ujar Windhu, Jumat (9/1).

WGS Jadi Kunci Pengendalian Penyakit

Menurut Windhu, diagnosis superflu tidak cukup hanya melalui pemeriksaan klinis. WGS diperlukan untuk mendeteksi materi genetik virus, memastikan jenis subklade, serta membantu pemetaan pola penyebaran penyakit.

“Surveilans rutin harus dilakukan. Pasien dengan gejala mirip flu (Influenza Like Illness) perlu segera didata dan diperiksa menggunakan WGS agar penanganannya tepat sasaran,” jelasnya.

Gejala Sulit Dibedakan dengan Flu Biasa

Windhu menjelaskan bahwa gejala superflu secara umum mirip dengan flu biasa, yakni demam, batuk, dan pilek, sehingga masyarakat sering terlambat menyadari infeksi.

“Secara kasatmata sulit dibedakan. Namun, jika muncul sesak napas atau keluhan tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan,” katanya.

Masyarakat Diimbau Tetap Tenang dan Waspada

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik, namun harus meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Virus superflu menyebar melalui droplet, sehingga penggunaan masker dan etika batuk menjadi langkah perlindungan utama.

“Gunakan masker, tutupi hidung dan mulut saat batuk atau bersin, serta jaga kebersihan diri. Selain itu, masyarakat harus kritis dalam menyaring informasi agar tidak terjebak hoaks,” tegasnya.

Tantangan Pengendalian dan Peran Pemerintah

Windhu menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menyampaikan informasi yang akurat dan proporsional kepada publik.

“Jangan meremehkan risikonya, tetapi juga jangan menciptakan kepanikan. Data harus disampaikan secara transparan dan ilmiah,” ujarnya.

Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat pascapandemi, para ahli menilai kesiapan sistem surveilans dan kapasitas laboratorium menjadi faktor penentu dalam mencegah superflu berkembang menjadi krisis kesehatan baru.(rmt) 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#wgs #H2N3 #Windhu Purnomo #subklade K #Superflu #virus influenza #Whole Genome Sequencing