RADAR SURABAYA - Merebaknya kasus superflu yang disebabkan oleh virus Influenza A (H2N3) subclade K kini menjadi perhatian publik. Diagnosis penyakit ini memerlukan uji lanjut melalui pengujian laboratorium, khususnya WGS (Whole Genome Sequencing) untuk mendeteksi DNA virus pada manusia. Selain itu, superflu memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dibandingkan flu biasa.
Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr. Windhu Purnomo menjelaskan bahwa meskipun superflu tidak termasuk penyakit yang sangat berbahaya, masyarakat tidak boleh menganggapnya remeh. Superflu termasuk jenis penyakit yang tidak begitu berbahaya.
"Bisa dilihat dari angka hospitalisasi dan fatalitas yang rendah. Dengan demikian, apabila imun tubuh kuat, maka penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, penting untuk tidak memandang remeh penyakit superflu ini," ujarnya pada Jumat (9/1).
Menurutnya, pemantauan rutin (surveilans) menjadi kunci dalam mengontrol penyebaran penyakit. Pemerintah diharapkan mendata pasien dengan gejala serupa flu (Influenza Like Illness) untuk kemudian dilakukan pengujian WGS.
"Masyarakat tidak perlu panik dengan penyakit ini, jaga kesehatan dan terus terapkan PHBS. Dalam menangani kasus ini, pemerintah harus memberikan informasi yang tepat dan data yang real. Jangan meremehkan bahayanya, namun jangan pula memberikan rasa takut di masyarakat," tegasnya.
Windhu menambahkan bahwa gejala superflu yang terjadi saat ini mirip dengan flu pada umumnya. Yaitu demam, batuk, dan pilek. Secara kasat mata sulit membedakan dengan flu biasa.
"Namun, apabila terdapat sesak nafas dan gejala sakit yang tidak kunjung sembuh maka perlu untuk diperiksakan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan terdekat," jelasnya.
Editor : Lambertus Hurek