RADAR SURABAYA — Produksi padi dan beras di Jawa Timur pada 2025 mencatatkan peningkatan signifikan dan menjadi yang tertinggi sepanjang periode 2020–2025. Kenaikan tersebut ditopang oleh bertambahnya luas panen serta produktivitas yang terus membaik di sejumlah sentra pertanian.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Heru Suseno, mengatakan pada 2025 luas panen padi di Jatim mencapai 1,84 juta hektare. Angka ini meningkat 13,69 persen dibandingkan luas panen 2024 yang tercatat sebesar 1,62 juta hektare.
“Pada 2025, luas panen padi kami perkirakan mencapai 1,84 juta hektare. Ini naik cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi salah satu faktor utama meningkatnya produksi padi,” ujar Heru kepada Radar Surabaya, Kamis (8/1).
Seiring bertambahnya luas panen, produksi padi juga mengalami lonjakan. Pada 2025, produksi padi Jawa Timur diperkirakan mencapai 10,53 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini naik 13,60 persen dibandingkan produksi padi 2024 yang sebesar 9,27 juta ton GKG.
“Produksi padi pada 2025 diproyeksikan sekitar 10,53 juta ton GKG. Kenaikannya mencapai 13,60 persen, dan ini merupakan capaian tertinggi dalam kurun waktu 2020 hingga 2025,” tegasnya.
Heru menjelaskan, jika produksi padi tersebut dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka pada 2025 produksi beras di Jawa Timur diperkirakan mencapai 6,08 juta ton. Jumlah ini meningkat 13,60 persen dibandingkan produksi beras 2024 yang tercatat sebesar 5,35 juta ton.
“Produksi beras kita pada 2025 diperkirakan mencapai 6,08 juta ton. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan produksi padi dan menunjukkan kondisi ketahanan pangan Jatim yang semakin kuat,” katanya.
Menurut Heru, capaian tersebut tidak lepas dari berbagai upaya pemerintah daerah, mulai dari penguatan sarana dan prasarana pertanian, penyediaan benih unggul, optimalisasi irigasi, hingga pendampingan intensif kepada petani.
“Ini hasil kerja bersama. Pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota terus mendorong peningkatan produktivitas melalui inovasi dan penguatan sektor hulu hingga hilir pertanian,” jelasnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek