Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tahun 2026 Jadi Titik Penentu Transformasi Bisnis Media di Era Digital

Rahmat Adhy Kurniawan • Rabu, 31 Desember 2025 | 16:12 WIB
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, H. Lutfil Hakim.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, H. Lutfil Hakim.

RADAR SURABAYA — Tahun 2026 menandai kelanjutan penting dari fase transformasi industri media yang telah berlangsung sejak 2025.

Perkembangan teknologi informasi berbasis digital yang bergerak secara eksponensial dinilai tidak lagi memberi ruang bagi perusahaan media untuk bersikap stagnan.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, H Lutfil Hakim, menegaskan bahwa perusahaan media yang gagal beradaptasi dengan perubahan zaman akan semakin terpinggirkan dalam persaingan industri informasi.

“Transformasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Media yang tidak berubah akan kehilangan relevansi dan audiens,” ujar Lutfil, Selasa (30/12).

Media Konvensional di Persimpangan Jalan

Menurut Lutfil, media konvensional kini berada di persimpangan jalan akibat perubahan perilaku konsumsi informasi, disrupsi platform digital, serta pergeseran belanja iklan yang mengguncang fondasi model bisnis lama.

Media yang tidak segera melakukan penyesuaian, baik dari sisi teknologi, konten, maupun strategi bisnis, berisiko kehilangan kepercayaan publik dan pangsa pasar.

Meski banyak perusahaan pers telah mengadopsi sistem pendukung berbasis teknologi digital, Lutfil menekankan bahwa

kualitas jurnalistik dan kepercayaan publik tetap menjadi aset terbesar industri pers yang tidak dapat digantikan oleh algoritma maupun kecerdasan buatan.

Kolaborasi dan Monetisasi Baru Jadi Kunci Bertahan

Di tengah dominasi platform digital global, kolaborasi ekosistem disebut sebagai strategi krusial untuk memperluas jangkauan audiens.

Kerja sama antar-media, kolaborasi dengan kreator konten, serta kemitraan lintas industri menjadi kebutuhan mendesak untuk memperkuat daya saing.

Pada saat yang sama, perusahaan media dituntut mengembangkan strategi monetisasi baru.

Ketergantungan pada iklan tradisional dinilai tidak lagi berkelanjutan. Masa depan pendapatan media terletak pada kombinasi iklan digital, creator economy, commerce media, layanan langganan premium, serta pengembangan produk konten bernilai tambah.

Audiens Bergerak, Media Harus Mengikuti

Pola konsumsi audiens kini berubah secara fundamental. Masyarakat tidak lagi terpaku pada satu saluran informasi, melainkan berpindah-

pindah antar platform seperti TikTok, YouTube, Instagram, layanan streaming berbayar, komunitas niche, audio pendek, hingga podcast.

Kondisi tersebut menuntut perusahaan media untuk hadir di seluruh ekosistem digital dan mendistribusikan konten secara strategis sesuai karakter masing-masing platform.

Media dan Peran Baru dalam Ekonomi Kreatif

Selain produksi konten, perusahaan pers juga didorong untuk mengambil peran aktif dalam industri ekonomi kreatif. Menjadi penyelenggara kegiatan berbasis massa, seperti event olahraga,

seminar, pameran, konferensi, dan festival, dinilai mampu membuka sumber pendapatan baru yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi bisnis media, tetapi juga memperluas perannya sebagai penggerak ekosistem informasi dan ekonomi.

Menjaga Jurnalistik di Tengah Disrupsi

Lutfil menegaskan, sekuat apa pun transformasi bisnis yang dilakukan, perusahaan media tetap memikul tanggung jawab utama sebagai institusi pers: menjaga kualitas jurnalistik dan merawat kepercayaan publik.

“Teknologi adalah alat, monetisasi adalah kebutuhan, tetapi kepercayaan publik adalah fondasi. Tanpa itu, tidak ada model bisnis yang bisa bertahan lama,” tegas alumnus FISIP Universitas Jember (UNEJ) ini. 

Ia menyimpulkan, tahun 2026 bukan sekadar tahun perubahan, melainkan titik penentu bagi masa depan industri media: apakah mampu memimpin transformasi, atau justru tertinggal oleh arus zaman.(rak)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#PWI #H Lutfil Hakim #disrupsi platform digital #pwi jawa timur #Ketua Persatuan Wartawan Indonesia #Perkembangan teknologi informasi berbasis digital