RADAR SURABAYA - Anggota DPR RI Abdullah mengapresiasi langkah pemengaruh sekaligus aktivis Ferry Irwandi yang menggalang bantuan bagi korban bencana di Sumatera.
Menurutnya, aksi sosial tersebut adalah bukti nyata empati dan solidaritas nasional yang harus diperkuat, bukan dicibir.
Pernyataan Abdullah ini sekaligus menanggapi komentar kritis anggota DPR RI lainnya, Endipat Wijaya yang sebelumnya membandingkan aksi Ferry dengan upaya pemerintah.
Endipat menyebut bahwa penanganan negara seharusnya lebih sigap dibandingkan inisiatif masyarakat sipil.
Abdullah menegaskan bahwa solidaritas nasional dalam penanganan bencana telah terbukti melalui kolaborasi antara relawan, TNI-Polri, dan aparatur negara.
“Jadi menurut saya, kita sudahi perdebatan yang menyudutkan ini. Fokus kita untuk menangani bencana, dan ini berangkat dari solidaritas nasional,” ujarnya di Jakarta, Rabu (10/12).
Polri melalui Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Mabes Polri membantu mengangkut bantuan seberat 2,6 ton dengan pesawat Fokker 27.
Sementara TNI mendukung distribusi ke daerah terisolasi menggunakan helikopter dan pesawat Hercules.
“Saya mendukung kolaborasi positif TNI-Polri dan masyarakat sipil dalam menangani bencana ini. Kolaborasi mesti ditingkatkan agar penanganan di Pulau Sumatera lebih efektif,” tambah Abdullah.
Sebelumnya, Endipat Wijaya melontarkan cibiran dengan membandingkan aksi Ferry Irwandi dan relawan dengan pemerintah.
Ia menilai pemerintah seharusnya lebih cepat dan terstruktur dalam menyalurkan bantuan, bukan kalah dari inisiatif masyarakat sipil.
Abdullah menanggapi bahwa kritik tersebut tidak produktif di tengah situasi darurat. “Pemulihan bencana bukan ajang saling menyalahkan. Justru kolaborasi antara masyarakat sipil dan negara adalah kekuatan kita,” tegasnya.
Selain itu, Abdullah menyatakan DPR mendukung seruan taubat ekologis dari Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Imin).
Seruan ini menekankan pentingnya menghentikan deforestasi, mengembalikan fungsi kawasan lindung, serta merestorasi daerah aliran sungai (DAS).
“Hakikatnya, bencana ini adalah alarm ekologis. Negara wajib memberikan sanksi tegas kepada perusak lingkungan,” kata Abdullah.
Kasus bencana di Sumatera menjadi momentum penting untuk memperkuat solidaritas nasional.
Abdullah menegaskan bahwa aksi Ferry Irwandi dan relawan adalah bukti nyata empati, sementara cibiran Endipat Wijaya yang membandingkan dengan pemerintah sebaiknya dihentikan demi fokus pada pemulihan.
“Penanganan bencana adalah tanggung jawab bersama. Kolaborasi masyarakat sipil, TNI-Polri, dan pemerintah adalah jalan terbaik untuk memulihkan korban,” pungkas Abdullah. (ant/nur)
Editor : Nurista Purnamasari