RADAR SURABAYA - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyatakan pemerintah tengah menyiapkan peningkatan besar kapasitas produksi pangan berprotein untuk mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang akan menyasar 82,9 juta penerima mulai 2026.
Zulhas menjelaskan kebutuhan harian program tersebut menuntut pasokan besar dari komoditas telur, ikan, ayam, sayur, dan buah. Pemerintah melihat penguatan sektor protein menjadi prioritas setelah produksi pangan berbasis karbohidrat meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau satu hari perlu satu butir telur, berarti kita perlu 82,9 juta butir telur per hari tahun depan. Lalu kita perlu ikan, itu artinya 82,9 juta potong ikan per hari,” kata Zulhas dalam paparannya di International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Jakarta, Senin 17 November 2025.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, pemerintah akan membangun tambak ikan berskala besar seluas sekitar 20.000 hektare di wilayah Jawa. Selain itu, pengembangan tambak di sekitar 500 kabupaten/kota juga diproyeksikan berjalan bersamaan. Upaya ini akan didukung pembangunan 2.000 desa nelayan pada 2026.
Zulhas menyebut produksi pakan ternak dan penguatan budidaya ayam berskala nasional juga menjadi bagian dari strategi memperkuat pasokan protein. Ia menilai besarnya kebutuhan program MBG memerlukan dukungan lintas sektor.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), ia menyampaikan bahwa produksi beras nasional tahun ini diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, sementara produksi jagung naik sekitar sembilan persen. Kondisi ini membuat Indonesia tidak perlu melakukan impor beras pada akhir tahun. Tahun lalu impor beras mencapai 4,5 juta ton, sedangkan tahun ini terdapat surplus sekitar empat juta ton.
“Perintah Bapak Presiden, kedaulatan pangan tidak boleh ditawar. Berapa pun ongkosnya, kita harus lakukan,” ujarnya.
Meski demikian, Zulhas menegaskan perlunya inovasi dan teknologi, termasuk varietas padi unggul, mekanisasi, dan riset pertanian. Ia menyebut kolaborasi internasional melalui forum seperti ISRF dapat memperkuat ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang. (*)
Editor : Lambertus Hurek