RADAR SURABAYA - Polisi mengungkap bahwa siswa pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, mengalami kondisi dekompresi kepala akibat insiden tersebut. Saat ini pelaku dirawat intensif di RS Soekamto dan dijadwalkan menjalani operasi.
Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Martinus Ginting, menyampaikan bahwa tindakan medis dilakukan demi keselamatan pelaku yang berstatus anak berhadapan dengan hukum (ABH).
“Pasien ini saat ini dirawat di RS Soekamto untuk kepentingan pasien. Hari ini kami jalani tindakan operasi dekompresi tulang kepala agar penanganannya maksimal,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (11/11).
Peristiwa ledakan terjadi pada Jumat (7/11) saat khotbah salat Jumat di masjid sekolah. Sebanyak 96 orang menjadi korban dalam insiden tersebut.
Pelaku yang merupakan siswa SMAN 72 Jakarta disebut kerap mengakses dark web dan merakit sendiri peledak dengan panduan dari internet.
Densus 88 Antiteror Polri menegaskan bahwa pelaku memiliki pengetahuan dasar tentang bahan peledak.
Dansat Brimob Polda Metro Jaya, Kombes Henik Maryanto, menjelaskan bahwa bom yang meledak Dia masjid sekolah diduga dikendalikan dengan remote.
“Switching-nya menggunakan receiver yang dikendalikan dengan remote. Casing-nya jeriken plastik 1 liter dengan strap mill paku. Dari material yang ditemukan, rangkaian tersebut adalah bom aktif dengan sistem remote,” ungkap Henik.
Polisi menemukan tujuh peledak di lingkungan sekolah, empat di antaranya meledak. Barang bukti lain ditemukan di taman baca dan bank sampah, termasuk sebuah remote. Selain itu, penggeledahan di rumah pelaku juga menghasilkan sejumlah alat bukti tambahan.
“Dapat disimpulkan untuk di TKP pertama di masjid bahwa rangkaian tersebut adalah bom aktif dengan menggunakan remote. Hal ini sesuai dengan ditemukannya empat buah baterai transmiter dan bagian receiver dengan daya 6 volt,” jelas Kombes Henik Maryanto.
Pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta kini menjalani operasi kepala akibat dekompresi tulang.
Sementara itu, polisi terus mendalami kasus dengan temuan tujuh bom rakitan di lokasi sekolah dan sejumlah barang bukti dari rumah pelaku.
Kasus ini menyoroti bahaya akses informasi peledak melalui internet dan pentingnya pengawasan terhadap aktivitas digital remaja. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari