Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dugaan Penganiayaan Murid oleh Kepala SD di Jember, Ini Faktanya

Nurista Purnamasari • Minggu, 28 September 2025 | 20:23 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

RADAR SURABAYA - Insiden dugaan penganiayaan terjadi pada Jumat, 26 September 2025, di SDN Sanenrejo 02, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember.

Menurut Kapolsek Tempurejo AKP Heri Supadmo, peristiwa bermula saat guru Pendidikan Agama meninggalkan kelas karena murid kelas V tidak terkendali. Kepala sekolah M Khobir, 55, kemudian masuk ke kelas dan memarahi tiga siswa.

“Dua siswa ditendang kakinya, satu siswa ditampar pipinya,” ujar AKP Heri.
Orang tua korban awalnya enggan melapor, namun akhirnya membuat laporan polisi pada pukul 17.00 WIB hari itu. Visum luar dilakukan di Puskesmas Tempurejo sebagai dasar penyelidikan.

M Khobir disebut pernah melakukan tindakan serupa saat menjabat sebagai kepala sekolah di SDN Curahnongko pada 2023. Saat itu, kasus diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak dilaporkan ke polisi.

“Ini bukan kali pertama pelaku melakukan penganiayaan terhadap siswa,” tegas AKP Heri.

Wali kelas II SDN Sanenrejo, Eny Indah Puji Astutik, menyebut Khobir selama ini dikenal baik oleh para guru. Ia menduga insiden terjadi karena emosi sesaat. Setelah kejadian, Khobir tidak hadir ke sekolah dengan alasan kesehatan.

Pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Jember menggelar mediasi dengan wali murid. Hasilnya, dua dari tiga orang tua korban mencabut laporan. Kepala sekolah pun dinonaktifkan dan dimutasi ke wilayah lain. “Kami sepakat menyelesaikan secara kekeluargaan,” ujar Eny.

Namun, tidak semua wali murid sepakat. Intan Wahyu, orang tua salah satu korban, menolak mencabut laporan dan menuntut sanksi lebih tegas. “Mutasi saja tidak cukup. Ini bukan kali pertama,” tegas Intan.

Ia menilai tindakan kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan harus ditindak secara hukum, bukan hanya administratif.

Meski insiden sempat mengganggu suasana, kegiatan belajar mengajar di SDN Sanenrejo 02 tetap berjalan normal.

Pihak sekolah berjanji memberikan pendampingan khusus bagi siswa agar tidak mengalami trauma.“Kami kondisikan agar anak-anak tetap nyaman belajar,” ujar Eny.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa perlindungan anak di sekolah harus menjadi prioritas utama, dan setiap tindakan kekerasan harus ditangani secara transparan dan adil. (trn/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#sekolah #kepala sekolah #pendidikan #pemukulan siswa #jember