RADAR SURABAYA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan ketersediaan beras nasional dalam kondisi aman. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri Gerakan Pangan Murah di Taman Mundu atau Taman 10 Nopember, Tambaksari Surabaya, Senin (23/9).
Acara tersebut juga dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Pimpinan Wilayah Bulog Jatim Langgeng Wisnu Adingroho, serta sejumlah kepala OPD Pemprov Jatim.
“Hari ini kita operasi pasar besar-besaran di Jatim. Kita melepas sekitar 2.400 ton beras. Dan ini akan kita lanjutkan terus-menerus, bukan hanya hari ini saja. Bahkan kami sudah minta Bulog buka 24 jam. Kita tidak boleh membiarkan rakyat kita jalan sendiri,” kata Amran.
Ia menegaskan, langkah tersebut sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto sebelum melakukan pertemuan bilateral dengan Sekretaris Jenderal PBB di Amerika Serikat. “Beliau minta kami turun langsung ke lapangan untuk mengecek kondisi pangan saat ini,” ujarnya.
Menurut Amran, stok beras nasional saat ini mencapai 1,3 juta ton. Masih ada tambahan 1,7 juta ton yang siap digelontorkan melalui operasi pasar hingga akhir tahun. “Sampai tahun baru kita akan lakukan operasi pasar,” tambahnya.
Amran juga meminta Bulog mempercepat penyaluran beras kepada masyarakat. “Khususnya Pak Wali Kota dan Pak Bupati, jangan dibatasi. Agar rakyat bisa menikmati dan merasakan kehadiran pemerintah,” tegasnya.
Ia menambahkan, capaian saat ini menjadi tonggak sejarah karena Indonesia tidak melakukan impor beras hingga memasuki 11 bulan pemerintahan Presiden Prabowo. “Sampai detik ini kita tidak ada impor beras. Stok kita bahkan tertinggi sejak Indonesia merdeka,” ujarnya.
Selain itu, produksi pangan nasional terus meningkat. Berdasarkan data FAO (Food and Agriculture Organization), peningkatan produksi beras Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia.
“Negara-negara lain mengapresiasi kita, karena di tengah kondisi pangan dunia yang tidak baik-baik saja, Indonesia justru mampu surplus,” tutur Amran.
Amran berharap target Presiden agar Indonesia mencapai swasembada pangan dalam empat tahun bisa tercapai lebih cepat. “Doakan, dalam waktu sesingkat-singkatnya, Indonesia bisa swasembada,” jelasnya.
Suwartono, warga Surabaya, mengaku senang dengan adanya pangan murah tersebut. Ia mendapatkan beras SPHP seharga Rp 55.000 per 5 kilogram. “Sebelumnya harga beras SPHP ini mencapai Rp 60.000–Rp 70.000. Tentu ini sangat membantu sekali,” katanya. (*)
Editor : Lambertus Hurek