Radar Surabaya - Depresi selama ini lebih sering dipahami sebagai gangguan kesehatan mental yang menimbulkan dampak emosional, seperti rasa sedih, stres dan putus asa. Namun, kondisi ini juga dapat memunculkan gejala fisik yang sering tidak disadari atau disalahartikan sebagai masalah kesehatan umum.
Depresi bukan hanya berkaitan dengan psikologis. Perubahan pada otak, hormon, serta neurotransmiter dapat menimbulkan keluhan fisik nyata. Tujuh gejala fisik depresi yang kerap luput dari perhatian
Kelelahan
Penderita merasa letih berkepanjangan meski sudah beristirahat. Kondisi ini bisa diperburuk oleh insomnia atau tidur yang tidak nyenyak. Pada sebagian orang, justru muncul dorongan untuk tidur terus-menerus.
Nyeri
Rasa sakit yang tidak jelas penyebabnya, seperti nyeri leher atau punggung, sering muncul. Depresi juga berkaitan dengan meningkatnya peradangan dalam tubuh yang berwujud gejala fisik.
Sakit Kepala
Keluhan sakit kepala berulang, bahkan migrain kronis, bisa menjadi tanda depresi. Sejumlah penelitian mencatat frekuensinya lebih tinggi pada penderita depresi berat.
Gangguan Pencernaan
Mual, perut kembung, diare, atau sembelit bisa terkait dengan depresi. Hal ini terjadi karena adanya keterhubungan antara otak dan sistem pencernaan yang sensitif terhadap stres.
Penurunan Gairah Seksual
Turunnya libido atau hilangnya minat terhadap aktivitas seksual dapat menjadi manifestasi fisik depresi, yang berpotensi memengaruhi hubungan interpersonal.
Gangguan Penglihatan
Sebagian penderita melaporkan penglihatan kabur atau kesulitan membedakan kontras warna. Penelitian di Jerman menemukan depresi dapat memengaruhi persepsi visual.
Sakit Perut
Kram, mual, atau rasa tidak nyaman di perut juga bisa menjadi gejala depresi, umumnya dipicu oleh stres berkepanjangan.
Jika gejala fisik seperti di atas muncul dan dicurigai berkaitan dengan depresi, masyarakat disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga profesional, baik dokter, psikolog, maupun psikiater, untuk memperoleh diagnosis dan perawatan yang tepat.
Penanganan biasanya dilakukan melalui terapi kombinasi, termasuk terapi bicara, obat antidepresan, hingga terapi cahaya untuk depresi musiman. (wfq/fir)
Editor : M Firman Syah