RADAR SURABAYA - Aksi demonstrasi yang berlangsung di Surabaya dalam dua hari terakhir berakhir anarkis dan menimbulkan keprihatinan dari berbagai pihak. Aksi yang awalnya merupakan bentuk solidaritas terhadap Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang meninggal dunia akibat terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob pada Kamis lalu di Jakarta, meluas menjadi berbagai permasalahan.
Aksi anarkis tersebut dimulai sejak Jumat (29/8) kemudian dilanjutkan massa aksi membakar Gedung Negara Grahadi pada Sabtu (30/8) malam. Selain itu, mereka juga membakar pos jaga polisi di beberapa titik dan merusak fasilitas umum.
Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Prof. Mulyanto Nugroho, mengungkapkan keprihatinannya atas aksi demonstrasi yang berujung anarkis ini. "Kita ikut prihatin, kita harus menjaga ketertiban, kalau ada kerusuhan harus ditindak," ujarnya.
Prof Nug sapaan akrabnya menambahkan bahwa ingin patriot bangsa harus menjaga ketenangan. Demo menyampaikan aspirasi dan berpendapat di depan umum memang diatur di dalam Undang-undang Dasar
"Harus tahu kita diatur diundang kaitnya menyampaikan pendapat. Kita selaku rektor mengimbau harus damai mari sama sama walaupun beda pendapat tetap satu jua. Jadi saya imbau kepada mahasiswa dan masyarakat bahwa kita tidak boleh melakukan anarkis dan damai maka kita harus bagaimana memajukan bangsa dan negara," imbaunya.
Ia menegaskan memperbolehkan mahasiswanya untuk mengikuti demo namun jangan terprovokasi dan melakukan tindakan anarkis. "Boleh ikut (demo, red), boleh penyaluran aspirasi dan pendapat tapi gak boleh anarkis," tegasnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek