Jakarta – Hidup sehat tak selalu menjamin terbebas dari penyakit serius. Hal itu dialami Rachmayunila, 42, yang meski rajin berolahraga, menjaga pola makan, serta tidak pernah merokok, tetap divonis menderita kanker paru stadium 4.
Gejala awal yang dirasakannya muncul saat bulan puasa, ketika ia cepat merasa lelah. Dugaan awalnya hanya karena kurang tidur dan beban pekerjaan. Namun, pemeriksaan medis menemukan adanya cairan di paru-paru yang kemudian mengungkap penyakit kanker stadium lanjut.
Nila mengaku kaget, sebab selama ini ia disiplin menjaga kesehatan. Ia rutin berenang, berjalan kaki hingga 6.000 langkah per hari, serta melakukan medical check-up tahunan. Namun pemeriksaan yang hanya sebatas tes darah membuat penyakitnya terlewat.
"Saya merasa kecolongan, karena medical check-up saya biasanya hanya tes darah tanpa rontgen. Tiba-tiba sudah stadium 4," kata Nila dalam diskusi memperingati Bulan Kanker Paru Sedunia yang digelar Cancer Information & Support Center (CISC) bersama komunitas pasien kanker, Rabu (27/8).
Menurut Nila, tantangan terbesar pasien kanker paru adalah lemahnya deteksi dini. Penyakit ini kerap disebut sebagai “silent disease” karena jarang menunjukkan gejala jelas hingga mencapai stadium lanjut.
Kisahnya menunjukkan pentingnya pemeriksaan lanjutan. Setelah menjalani rontgen dan PET scan, barulah kanker yang dideritanya terdeteksi.
"Harusnya ada gejala, tapi saya tidak merasakan apa-apa. Tidak ada batuk, tidak ada sesak. Makanya saya kaget, langsung stadium 4," ujarnya.
Data LUNGevity Transforming Lung Cancer menyebut, skrining kanker paru sebaiknya dilakukan sebelum gejala muncul. Metode yang kini banyak direkomendasikan adalah low-dose computed tomography (LDCT) atau CT scan dosis rendah, yang lebih akurat daripada rontgen dada.
Sementara itu, American Cancer Society menegaskan sebagian besar kasus baru diketahui saat sudah menyebar. Meski demikian, gejala awal dapat berupa batuk kronis, batuk berdarah, nyeri dada, suara serak, sesak napas, hingga penurunan berat badan tanpa sebab.
Meski sudah menjalani pola hidup sehat dengan olahraga, konsumsi lemon setiap pagi, hingga minum jamu tradisional, Nila tetap tidak luput dari kanker paru.
"Saya rajin berenang, jalan kaki, minum lemon setiap pagi, bahkan rutin minum jamu. Tapi tetap saja saya terkena kanker paru," ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dan lembaga kesehatan lebih aktif memberikan edukasi tentang deteksi dini.
"Saya berharap ada lebih banyak edukasi tentang cara skrining dan deteksi dini, supaya orang tidak lagi kecolongan seperti saya," pungkasnya. (dwi/gab/fir)
Editor : M Firman Syah