Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Unesco Bahas Pelestarian Budaya Takbenda di Era Digital bersama Unair Surabaya

Rahmat Sudrajat • Jumat, 15 Agustus 2025 | 20:53 WIB

Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Delegasi Tetap RI untuk UNESCO menggelar acara bedah buku berjudul “Identitas, Inovasi, dan Intergenerasi”. (IST)
Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Delegasi Tetap RI untuk UNESCO menggelar acara bedah buku berjudul “Identitas, Inovasi, dan Intergenerasi”. (IST)
RADAR SURABAYA - Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Delegasi Tetap RI untuk UNESCO menggelar acara bedah buku berjudul “Identitas, Inovasi, dan Intergenerasi”.

Acara ini membahas strategi pelestarian budaya takbenda Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO, dengan fokus pada peran generasi muda dan teknologi digital.

 Yuyun WI Surya, Kaprodi Magister Media & Komunikasi FISIP Unair, menekankan pentingnya inovasi dalam pelestarian budaya. "Pelestarian budaya takbenda tidak bisa ditinggalkan pada nostalgia. Ia perlu masa depan, dan masa depan itu, hari ini, berada di tangan anak muda yang hidup di ruang digital," ujarnya, Jumat (15/8).

 Dekan FISIP Unair, Prof. Bagong Suyanto, menambahkan bahwa buku ini adalah bukti kontribusi akademisi dalam melestarikan budaya Indonesia. Salah satu kontributor buku, Saevasilvia, memperkenalkan konsep robot angklung sebagai cara untuk menarik minat generasi muda pada tradisi.

"Ini salah satu cara untuk membunyikan kembali memori, supaya anak-anak yang besar dengan gawai tetap bisa terpikat oleh getaran bambu," jelasnya.

Hartanti Maya Krisna dari Kementerian Kebudayaan RI menyoroti perlunya strategi nasional yang menghubungkan budaya lokal dengan panggung global. Ia juga menekankan pentingnya data dan dokumentasi dalam pewarisan budaya. "Warisan Budaya Takbenda hanya akan bertahan jika tetap relevan, terus diciptakan kembali, dan diwariskan lintas generasi," katanya.

 Andreanto Surya Putra, seorang pegiat budaya dan pecinta Reog Ponorogo, memaparkan bagaimana kesenian ini terus beradaptasi. Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi Reog, termasuk mencari bahan alternatif ramah lingkungan untuk pembuatan Dadak Merak.

 "Diperlukan langkah strategis seperti pelatihan kreatif, integrasi Reog dalam kurikulum sekolah, dan promosi melalui platform digital agar lebih dekat dengan selera generasi sekarang," tambahnya.

 Duta Besar IGAK Satrya Wibawa menekankan bahwa budaya adalah bahasa universal yang mampu melampaui batas politik dan ekonomi. "Kita punya segalanya, tetapi tantangannya adalah membuat dunia tidak sekadar melihat, melainkan juga memahami," ujarnya.

 Dina Septiani, salah satu penulis esai dalam buku ini, merangkum bahwa tradisi membutuhkan penjaga dan penutur. "Penjaga memastikan akar tetap kuat penutur memastikan cabang terus tumbuh," tuturnya. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#UNESCO #universitas airlangga (unair) #fisip unair #Pelestarian Budaya