Radar Surabaya – Perbedaan antara perintis dan pewaris kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video viral menampilkan Ryu Kintaro, seorang anak berusia 9 tahun, yang bercerita penuh semangat mengenai perjalanannya sebagai perintis usaha. Dengan mata berbinar dan gaya yang menghibur, Ryu menyampaikan kisah perjuangan mencari jalan hidup secara mandiri.
Unggahan tersebut memicu gelombang respons dari masyarakat, terutama dari kalangan orang dewasa yang mengaku sebagai perintis sejati. Mereka menilai bahwa narasi yang dibawakan oleh Ryu, meski menginspirasi, tidak merepresentasikan realitas perjuangan seorang perintis yang dimulai dari titik nol tanpa dukungan modal maupun koneksi keluarga.
Sejumlah pengguna media sosial menyampaikan pandangan bahwa latar belakang keluarga Ryu yang memiliki relasi luas lebih merepresentasikan sosok pewaris ketimbang perintis. Hal ini memicu diskursus mendalam tentang kesenjangan sosial, kerja keras, serta makna privilege dalam membangun karier atau usaha.
Fenomena tersebut kemudian menjadi pembahasan utama dalam sebuah seminar yang digelar pada Senin (11/08), dengan menghadirkan pembicara Anggana Ganera. Seminar ini mengupas secara kritis tentang perbedaan fundamental antara perintis dan pewaris, terutama dalam konteks dunia kerja dan kewirausahaan.
“Pertama, perbedaannya adalah seorang pewaris memiliki modal utama. Sedangkan perintis tidak memiliki modal utama atau tidak diberikan oleh orang tuanya karena, merupakan dari keluarga yang sederhana,” ujar Anggana.
Ia melanjutkan bahwa aspek pendidikan juga menjadi pembeda yang signifikan.
“Pewaris memiliki pendidikan yang cukup tanpa memikirkan biaya karena mendapatkan fasilitas yang cukup, atau mewah dari keluarganya. Sedangkan perintis harus berjuang dari nol atau memikirkan biaya, contohnya pada mahasiswa sambil kerja, dan mencari ilmu pengetahuan baru dengan bekerja demi mendapatkan uang untuk kuliah di perguruan tinggi yang diimpikan sebelumnya,” tambahnya.
Anggana juga menyoroti perbedaan dalam hal risiko dan tantangan yang dihadapi. Menurutnya, perintis umumnya dihadapkan pada risiko kegagalan yang lebih tinggi karena minimnya modal dan dukungan. Sementara itu, pewaris cenderung memiliki risiko yang lebih rendah karena sudah dibekali dengan aset serta infrastruktur dari keluarganya.
Diskursus antara perintis dan pewaris ini bukan hanya soal status sosial, tetapi juga mencerminkan realitas ketimpangan akses terhadap sumber daya dan peluang. Perdebatan yang dipicu oleh video viral tersebut kini membuka ruang refleksi lebih luas tentang makna sukses di era modern dan bagaimana masyarakat menilai perjuangan seseorang di tengah beragam latar belakang kehidupan. (acl/mel/fir)
Editor : M Firman Syah