RADAR SURABAYA - Mahasiswa dari empat universitas di dua negara, Indonesia dan Inggris, berkolaborasi dalam program Bamboo Nation 2025 Kinetic Bamboo Structure 2.0, untuk merancang dan merakit struktur bambu kinetik yang dapat bergerak dan beradaptasi dengan lingkungan. Program ini juga mengintegrasikan teknologi Augmented Reality (AR) untuk membantu proses perakitan.
Bambu, sebagai material berkelanjutan yang populer dalam dunia arsitektur, menjadi fokus utama dalam workshop yang berlangsung pada 4-10 Agustus 2025 ini.
Acara ini diselenggarakan oleh Petra Christian University (PCU) dan Universitas Ciputra, bekerja sama dengan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dan Xi'an Jiaotong-Liverpool University.
Riset ini mencakup sistem mekanika, desain komputasi, optimisasi, perancangan sambungan, dan penggunaan teknologi AR dalam fabrikasi dan instalasi.
"Secara konvensional kita membutuhkan cetakan untuk bentuk-bentuk yang sulit. Dengan AR, model digital dipakai sebagai cetakan untuk pembangunan. Jadi AR dipakai pada tahap fabrikasi, yaitu tahap marking and coding batang bambu sebelum dirakit ke struktur yang utuh," jelasnya. (*)