Bangkok – Bentrokan militer yang kembali pecah antara Thailand dan Kamboja di perbatasan, Kamis pagi (24/7), tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memicu dampak ekonomi yang signifikan. Jalur perdagangan utama yang menghubungkan Aranyaprathet (Thailand) dan Poipet (Kamboja) dilaporkan lumpuh total.
Menurut data Kamar Dagang Thailand, penutupan akses perbatasan telah mengakibatkan kerugian ekonomi mencapai 20 juta baht per hari. Ratusan kontainer berisi komoditas pertanian, tekstil dan produk elektronik dilaporkan tertahan sejak akhir pekan lalu.
Pengusaha ekspor di Provinsi Sa Kaeo, Thanakrit Boonmee, menyampaikan bahwa aktivitas perdagangan berhenti total akibat konflik bersenjata antara kedua negara.
“Kami tidak bisa bergerak. Truk sudah antre sejak semalam, dan semua proses bea cukai ditangguhkan,” ujarnya.
Gangguan tersebut turut melumpuhkan pasar tradisional di sepanjang garis demarkasi. Aktivitas ekonomi masyarakat perbatasan terhenti, sementara harga bahan pokok melonjak akibat tersendatnya distribusi.
Sektor pariwisata yang menjadi andalan kedua negara juga mengalami tekanan besar. Asosiasi Hotel Thailand melaporkan tingkat pembatalan reservasi hotel di Bangkok, Pattaya dan Siem Reap meningkat drastis, dengan penurunan mencapai 40 persen sejak konflik meletus.
Situasi ini turut mendorong kekhawatiran di kalangan investor asing. Beberapa perusahaan asal Jepang dan Korea Selatan menghentikan operasional pabriknya di kawasan industri dekat perbatasan, dan mulai memindahkan produksi ke negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Laos.
Kondisi tersebut menciptakan tekanan lebih luas terhadap stabilitas ekonomi kawasan. Perusahaan logistik internasional dilaporkan mulai mengalihkan jalur pengiriman dari pelabuhan Laem Chabang (Thailand) ke Singapura dan Vietnam guna menghindari risiko.
Pakar geopolitik Asia Tenggara dari Universitas Indonesia, Dr. Suyanto Idris, mengingatkan bahwa eskalasi konflik dapat merusak kepercayaan terhadap integrasi ekonomi regional.
“Perang ini bisa menjadi efek domino. Ketika dua negara anggota ASEAN saling serang, maka mimpi tentang pasar tunggal ASEAN juga akan dipertanyakan,” tegasnya. (ali/gab/fir)
Editor : M Firman Syah