Indonesia Dorong Pemanfaatan AI yang Etis dan Inklusif Lewat Strategi Nasional 2045
RADAR SURABAYA — Pemerintah Indonesia terus mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara etis, adil, dan inklusif melalui Strategi Nasional Kecerdasan Buatan 2020–2045 dan Peta Jalan Kecerdasan Buatan Nasional.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria.
“Pemanfaatan potensi AI serta langkah proaktif dalam mengatasi risikonya tertanam kuat dalam strategi nasional dan peta jalan tersebut,” kata Nezar dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, kedua kerangka strategis itu menjadi fondasi penting dalam memastikan pengembangan dan pemanfaatan AI secara beretika, adil, transparan, dan akuntabel.
Pemerintah juga fokus pada dampak sosial-ekonomi, seperti pergeseran tenaga kerja, pengembangan talenta lokal, dan pelindungan data pribadi.
“Tata kelola data yang kuat dan prinsip etika seperti keadilan, transparansi, dan akuntabilitas menjadi pertimbangan utama,” ujarnya.
Secara global, Indonesia mencatat tonggak penting pada 2024 dengan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang menyelesaikan Readiness Assessment Methodology for Artificial Intelligence (RAM AI) dari UNESCO.
“Pencapaian ini menunjukkan kesiapan dan komitmen Indonesia untuk memanfaatkan peluang besar dari AI demi kemajuan ekonomi dan sosial. Namun, tanggung jawab yang menyertainya juga besar,” tegas Nezar.
Meski begitu, Indonesia belum masuk dalam AI Risk Repository dari MIT yang memuat lebih dari 3.000 risiko global AI.
Nezar menekankan pentingnya memasukkan perspektif Indonesia dalam kerangka kerja global mengenai risiko AI.
“Kami ingin memastikan bahwa suara Indonesia tidak dikecualikan dalam diskursus internasional tentang tata kelola dan keamanan AI,” ujarnya.
Ia juga mendorong kolaborasi konkret lintas sektor dalam riset keamanan AI, pengembangan kebijakan, pelatihan digital, serta kampanye kesadaran publik.
“Kita harus berbagi pengetahuan terbaru, perspektif yang beragam, dan praktik terbaik dalam tata kelola AI, standar keamanan teknis, serta penguatan kapasitas kelembagaan,” pungkasnya.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan