RADAR SURABAYA – Bandara Dhoho Kediri diproyeksikan menjadi penopang operasional penerbangan selama masa perbaikan landasan pacu Bandara Internasional Juanda. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, sudah saatnya bandara yang dibangun dengan skema pendanaan swasta itu dioptimalkan pemanfaatannya.
“Sebenarnya ada potensi besar dari Bandara Dhoho, terutama untuk mendukung penerbangan umrah dari wilayah Mataraman dan sekitarnya,” ujar Emil, Rabu (2/7).
Menurut Emil, Juanda akan menjalani perbaikan total di runway yang akan berdampak pada penurunan kapasitas operasional. Kondisi ini membuka peluang bagi Bandara Dhoho untuk mengambil alih sebagian layanan penerbangan.
"Konektivitas akan jadi kunci penting. Bandara Dhoho nantinya akan terhubung dengan tol Kediri–Kertosono dan Kediri–Tulungagung. Ini akan mempermudah akses masyarakat," kata Emil.
Sementara itu, Plt Sekretaris Dinas Perhubungan Jatim Joko Pitoyo menambahkan, upaya untuk menghidupkan Bandara Dhoho sudah dilakukan dengan menyurati 14 kabupaten/kota di sekitar Kediri untuk mendukung pemanfaatan bandara.
“Salah satunya dengan mendorong penerbangan rute Kediri–Jakarta. Ini fasilitas nasional yang perlu kita dukung bersama,” ujar Joko.
Pemprov juga tengah mengupayakan realisasi program penerbangan umrah dari Bandara Dhoho. Berdasarkan data Pemkab Kediri, potensi jamaah umrah yang bisa memanfaatkan bandara ini mencapai 30.000 orang per tahun, berasal dari wilayah seperti Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, Blitar, hingga Nganjuk.
Selain itu, Pemprov Jatim juga sedang menyiapkan layanan transportasi pendukung untuk mempermudah akses masyarakat ke bandara. “Kami siapkan angkutan penghubung dari bandara ke sejumlah terminal,” tambah Joko.
Ia optimistis Bandara Dhoho bisa menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi baru serta memperluas konektivitas antardaerah di Jawa Timur, terutama dengan dukungan infrastruktur jalan tol yang mulai dibangun. (mus)
Editor : Lambertus Hurek