RADAR SURABAYA – Ada yang beda di Pendopo Kampung Budaya Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Selasa dan Rabu (3–4 Juni 2025). Deretan karya dan data riset mahasiswa mewarnai ruang itu dalam balutan kreativitas bertajuk Kala Akasya Sahitya: Pendidikan Seni sebagai Ruang Literasi.
Sebanyak 51 mahasiswa dari Program Magister dan Doktor Pendidikan Seni ambil bagian. Rinciannya, 17 mahasiswa Magister Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), 24 mahasiswa Magister reguler, dan 10 dari Program Doktor. Semua peserta menampilkan data penelitian mereka sebagai bagian dari tugas akhir.
Pameran ini dibuka oleh Dekan FBS, Prof Dr Tommy Yuniawan, M.Hum. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya literasi seni sebagai jalan membangun nalar kritis dan ekspresi budaya.
“Kegiatan ini juga bagian dari strategi percepatan studi,” kata Tommy.
Suasana pembukaan makin semarak berkat penampilan tari karya kolaborasi seni pertunjukan berjudul Merajut Keberagaman. Karya tersebut melibatkan sejumlah seniman dan akademisi dari berbagai daerah, yaitu Sri Mulyani (STKW Surabaya), Gusti Ayu Puspa Wati (UPMI Bali), I Komang David Darmawan (UPMI Bali), I Ketut Lanus (UPMI Bali).
Kemudian Belinda Dewi Regina (Malang), Florentianus Dopo (STKIP Citra Bakti Ngada, Flores, NTT), Faisal Rahmat Permana (UGJ Cirebon), LM. Rahmat (Makassar), Denik Ristya Rini (Universitas Negeri Malang), dan Riza Istanto (Semarang).
Para penari dari mahasiswa S-3 berhasil menyuguhkan gerak penuh makna, simbol semangat dan refleksi dunia akademik.
Sejumlah tokoh hadir dalam acara ini, mulai dari Koordinator Prodi S-3 Pendidikan Seni Dr Syakir, M.Sn., hingga Koordinator Prodi S-2 Pendidikan Seni Dr Eko Sugiarto, M.Pd. Para akademisi, budayawan, hingga pemerhati seni turut menyemarakkan suasana.
Yang menarik, pameran ini bukan sekadar pajangan data. Ada sesi diskusi ilmiah yang melibatkan para pakar, seperti Prof Dr Wadiyo, M.Si., Prof Dr Hartono, M.Pd., Prof Dr Malarsih, M.Sn., Dr Suharto, M.Hum., dan lainnya. Mereka membedah data yang ditampilkan dari sisi teoritis dan metodologis, dipandu moderator Ni Gusti Ayu Ratna, M.Pd.
Pameran ini dikurasi langsung oleh pakar pendidikan seni, Prof Dr Tjetjep Rohendi Rohidi, M.A. Menurut dia, acara ini menjadi ruang yang menjembatani dunia akademik dan artistik secara utuh.
“Bukan cuma soal data, tapi juga soal makna, identitas, dan budaya,” jelasnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek