Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Viral Teman Hidup Mbok Yem Lawu, Temon sang Monyet Penunggu Warung Terlihat Meratap Sedih

Muhammad Firman Syah • Minggu, 27 April 2025 | 05:10 WIB
Para pendaki Gunung Lawu secara bergantian memberikan makan kepada Temon sang monyet sahabat Mbok Yem.
Para pendaki Gunung Lawu secara bergantian memberikan makan kepada Temon sang monyet sahabat Mbok Yem.

Gunung Lawu — Sejak kepergian Mbok Yem, penjaga warung legendaris di puncak Gunung Lawu seekor monyet kecil bernama Temon terlihat meratap dalam kesunyian, seolah menanti sosok yang takkan pernah kembali.

Dalam sebuah video yang viral di media sosial, Temon terlihat duduk termenung di depan warung peninggalan Mbok Yem. Tubuhnya membungkuk lesu, matanya kosong menatap jauh, seperti menyimpan luka yang tak terucapkan. Gerak-geriknya lambat, jauh dari keriangan seekor monyet yang biasa menyambut para pendaki dengan kelincahan.

Momen haru itu mengundang ribuan komentar. Warganet menumpahkan rasa kehilangan mereka, tak hanya kepada Mbok Yem, tetapi juga terhadap kesetiaan Temon yang tulus tanpa syarat.

"Temon itu bukan sekadar monyet. Dia sahabat Mbok Yem, bagian dari cerita Lawu yang akan selalu kami kenang," tulis seorang pendaki veteran di akun Instagramnya.

Mbok Yem, nama asli Sriyem, telah menjadi ikon Gunung Lawu selama lebih dari 35 tahun. Warung sederhananya di puncak Hargo Dumilah menjadi tempat peristirahatan terakhir sebelum para pendaki menuntaskan perjalanan spiritual mereka.

Kehadiran Mbok Yem di puncak Lawu dianggap sebagai "oase di atas awan". Ia menyediakan makanan hangat, teh manis, hingga tempat berlindung dari badai dan kabut tebal yang kerap menyelimuti Lawu.

Banyak yang menganggap perjalanan ke puncak Lawu tidak lengkap tanpa singgah di warung Mbok Yem. Dalam setiap sajian nasi pecel hangat, dalam setiap seduhan teh, ada ketulusan yang sulit dicari bandingannya.

"Gunung Lawu adalah rumah saya. Pendaki adalah anak-anak saya," demikian ucapan Mbok Yem kepada media 2021 silam.

Kini, rumah itu sepi. Dan Temon, teman setia di puncak sunyi itu, menjadi simbol luka yang ditinggalkan. Cerita tentang Temon bukan sekadar kisah sentimentil. Studi ilmiah membuktikan bahwa hewan, terutama primata, memang bisa merasakan kehilangan dan duka.

Menurut penelitian di National Institutes of Health (NIH) dan Smithsonian's National Zoo and Conservation Biology Institute, banyak primata menunjukkan perilaku berduka saat kehilangan pasangan atau anggota kelompok mereka. Mereka menjadi lebih diam, kehilangan nafsu makan, bahkan menunjukkan tanda-tanda depresi ringan.

Dalam laporan BBC Earth, seekor simpanse bernama Washoe yang kehilangan sahabat manusianya menunjukkan gestur duka hampir serupa: duduk diam, mengabaikan makanan, dan menghindari interaksi.

Baca Juga: Karhutla Padam, Pemulihan Dilakukan di Gunung Arjuno, Bromo, dan Lawu

Temon mungkin tidak memahami kematian seperti manusia. Tapi dari gesturnya yang sunyi, tampak jelas bahwa ia merasakan kekosongan tentu ini sebuah bentuk cinta purba yang melintasi batas spesies.

Gunung Lawu, saksi bisu ribuan langkah kaki pencari makna, kini menyimpan duka baru. Bukan hanya karena kehilangan seorang penjaga warung, tetapi kehilangan sebuah bagian jiwa gunung itu sendiri. Temon, dengan kesederhanaannya, mengajarkan kita tentang arti keikhlasan dalam perpisahan. Tentang bagaimana duka bukan monopoli manusia alam pun berduka dengan caranya sendiri. (cha/fir)

 

Editor : M Firman Syah
#monyet #temon #pendaki #mbok yem #gunung lawu