Surabaya – Beberapa hari terakhir publik dibuat kaget. Di balik gemerlap lampu sorot dan tepuk tangan penonton yang memuja keajaiban sirkus, tersimpan kisah-kisah kelam yang nyaris tak terbayangkan. Kisah tragis itu diungkapkan oleh dua perempuan mantan pemain Oriental Circus Indonesia (OCI), Butet dan Vivi. Suara mereka bergetar. Mata mereka berkaca-kaca. Luka yang mereka bawa tak kasat mata, tapi nyata—terasa perih, menusuk nalar dan nurani.
Dalam sebuah wawancara penuh emosi di kanal YouTube, keduanya membongkar apa yang mereka sebut sebagai ‘neraka di bawah tenda sirkus’. Bukan hanya soal kerja keras, tapi penyiksaan brutal, eksploitasi fisik dan mental, hingga pelanggaran hak asasi manusia yang mengiris hati.
"Saya diseret dari mobil, dibawa ke kantor, lalu disetrum pakai alat penjinak gajah bahkan alat vital saya juga disetrum," ujar Vivi dengan suara gemetar.
Kalimat itu terlontar lirih, namun menghantam keras bagi siapa pun yang mendengarnya. Penyiksaan tak berhenti di situ. Vivi mengaku dipukuli, ditendang, bahkan dijambak hingga tak mampu berdiri. Ia menangis, memohon ampun. Tapi permohonannya, kata dia, hanya berbalas kekerasan.
“Saya ngompol karena tidak kuat lagi. Tubuh saya lemas. Tapi dia terus memukuli saya,” ucapnya.
Pemain sirkus lain, Butet tak kalah pilu. Ia mengenang momen memilukan ketika dipaksa melahap kotoran gajah hanya karena mengambil makanan dari meja sang bos. Tak cukup sampai di situ, ia mengaku pernah dipukuli hingga tangannya patah karena diketahui menjalin hubungan asmara saat masih remaja.
“Saya waktu itu baru 18 tahun. Saya dipukuli pakai balok. Tangan saya patah,” tuturnya.
Setelah insiden itu, Butet mengaku dipasung selama dua bulan. Dirantai di malam hari, hingga kesulitan buang air. Penderitaan itu, katanya, disaksikan langsung oleh rekan-rekan sesama pekerja sirkus.
Yang paling menyayat hati, kenang Butet, adalah kisah ketika dia harus berpisah dari bayi yang baru dilahirkannya. Saat masih dirawat di RS Imanuel, Bandung, bayinya diambil oleh orang dekat manajemen tanpa seizin dirinya.
“Saya bahkan tidak tahu anak saya dibawa ke mana,” ucap Butet, menunduk pilu.
Kini, Butet dan Fifi tak mencari panggung. Mereka tidak sedang membuat drama. Yang mereka tuntut hanyalah keadilan. Bersama sejumlah pihak, mereka mendesak dibentuknya satuan tugas independen untuk mengusut tuntas praktik pelanggaran HAM yang diduga terjadi secara sistematis di balik layar Oriental Circus Indonesia.
Nama-nama besar disebut, keluarga Manansang sebagai pendiri dan pengelola Taman Safari Indonesia yakni Hadi Manansang, Jansen Manansang, Frans Manansang, dan Tony Sumampouw, semua diduga memiliki keterlibatan dalam lingkaran kekerasan itu.
Respons Pemerintah dan Tuduhan yang Ditepis
Menanggapi pengakuan para korban, Wakil Menteri Hukum dan HAM RI, Mugiyanto, berjanji akan memanggil pihak-pihak terkait untuk dimintai keterangan. "Kami ingin mendapatkan informasi yang komprehensif," tegasnya.
Namun di sisi lain, Tony Sumampouw tokoh kunci di Taman Safari dan pelatih hewan OCI—membantah keras semua tuduhan. “Itu mengada-ada,” ujarnya kepada awak media di Jakarta, Selasa (15/4).
Tony menegaskan bahwa OCI dan Taman Safari Indonesia adalah dua entitas hukum yang berbeda. Ia bahkan menuding ada pihak-pihak yang menghubunginya dan mencoba memeras dengan tuduhan serupa.
Sementara itu, Kuasa hukum para korban, M. Sholeh menyampaikan kisah Butet dan Vivi bukan sekadar cerita tentang kekerasan di balik sirkus. Ini adalah cermin retak dari wajah hiburan yang selama ini kita tepuki dengan kagum.
"Saat tenda sirkus dibongkar, dan para pemain pulang ke balik panggung, siapa yang tahu bahwa sebagian dari mereka pulang membawa luka seumur hidup? Inilah yang harus diusut tuntas dan negara tidak boleh kalah," kata Sholeh. (sil/fir)
Editor : M Firman Syah