Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bahaya Penggunaan Obat Bebas di Kalangan Mahasiswa

Indra Wijayanto • Kamis, 12 Desember 2024 | 04:24 WIB
Photo
Photo

Oleh: Nabilah Dwi Fizqiyyah (*)

PADA zaman yang berkembang ini, peran anak muda terutama mahasiswa untuk menjadi agen perubahan dan pemimpin masa depan sangatlah penting.

Mereka dituntut untuk memiliki intelektualitas yang tinggi dan keterampilan sosial yang mumpuni. Namun, pada banyak tuntutan akademik yang berat banyak mahasiswa terjebak dalam pola hidup yang kurang sehat, terutama penggunaan obat bebas.

Obat bebas yang dapat diperoleh tanpa resep dokter sering dianggap sebagai solusi cepat untuk mengatasi kelelahan dan mengatasi kesehatan ringan.

Tetapi penggunaan obat bebas yang tidak tepat dapat menimbulkan resiko terhadap mahasiswa akibat penyalahgunaan obat.

Obat bebas dan bebas terbatas merupakan kedua golongan obat yang umum digunakan untuk swamedikasi.

Tingginya risiko yang ditimbulkan akibat penggunaan obat yang tidak rasional harus diperhatikan oleh setiap individu agar meningkatkan pengetahuan dan perilaku yang baik dalam swamedikasi.

Swamedikasi merupakan upaya seseorang melakukan pengobatan sendiri dan pembelian sendiri tanpa menggunakan resep dokter.

Obat yang paling banyak digunakan adalah Paracetamol yang dibeli di apotek tanpa resep dokter untuk mengatasi demam, meredakan nyeri, sakit kepala, flu, sakit gigi, hingga nyeri sendi.

Umumnya penyakit ringan yang diatasi masyarakat dalam tindakan swamedikasi adalah flu, batuk, demam, nyeri, dan diare.

Faktor yang mempengaruhi masyarakat menggunakan swamedikasi karena adanya peningkatan perkembangan zaman yaitu internet atau AI dan mahalnya biaya pengobatan untuk konsul kepastian penyakit ke dokter.

Contoh obat yang sering digunakan adalah (PCC): Paracetamol, Cafein dan Carisoprodol.

Selain Paracetamol, Caffein adalah zat yang terdapat pada kopi, teh, ataupun cola untuk meningkatkan kesadaran.

Dalam dunia medis mengkonsumsi caffein juga terdapat aturan penggunaan. Jika berlebihan maka dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti cemas, serangan tekanan darah, naiknya asam lambung, dan insomnia.

Carisoprodol merupakan obat muscle relaxer yang membuat relaks pada otot. Mengonsumsi obat ini menyebabkan ketergantungan karena obat ini tidak dijual bebas. Efek samping yang disebabkan yaitu hilang kesadaran, kejang-kejang, hingga kehilangan penglihatan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang memberikan sanksi tegas berupa pencabutan izin kepada apotek apabila terbukti mengedarkan pil Paracetamol, Caffeine, Carisoprodol (PCC).

“Saat ini di Kota Malang belum ada temuan penyalahgunaan PCC. Namun jika sampai ada apotek yang terbukti mengedarkan pil ini maka pihaknya akan langsung mencabut izin usahanya. Ya jelas akan dapat sanksi tegas, izin apoteknya bisa kami cabut, termasuk apotekernya. Ini bukan main-main karena menyangkut nasib generasi muda ke depan,” papar mantan Kepala Dinkes Kota Malang Asih Tri Rachmi (2017).

Meski obat-obat tersebut mudah didapatkan obat ini dapat menyebabkan kecanduan atau gangguan kesehatan lainnya apabila disalahgunakan.

Alasan mahasiswa cenderung menggunakan obat bebas adalah untuk meredakan keluhan kesehatan ringan terutama untuk mengatasi stres akibat tugas yang menumpuk.

Padahal penggunaan ini tanpa resep dokter dapat berisiko besar. Obat bebas umumnya dianggap aman digunakan jika mengikuti dosis yang tertera pada kemasan.

Namun, penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan efek samping yang dapat merugikan bagi tubuh terutama apabila dikonsumsi tanpa pengawasan atau tanpa resep dokter.

Banyak mahasiswa yang menganggap obat bebas sebagai solusi instan tanpa menyadari dampak negatif yang berjangka panjang dapat menimbulkan efek samping.

Misalnya pada konsumsi obat penghilang rasa sakit dalam jangka panjang tanpa resep dokter dapat menyebabkan gangguan pada organ tubuh seperti kerusakan hati dan ginjal.

Obat bebas yang dikonsumsi untuk mengatasi stres atau cemas, seperti obat tidur atau penenang dapat berisiko menyebabkan ketergantungan.

Mahasiswa dapat menjadi ketergantungan pada obat-obatan dan merasakan dampak buruk seperti penurunan konsentrasi, kelelahan, atau bahkan gangguan mental yang lebih serius.

Banyak mahasiswa yang seringkali hidup dan merasa bahwa ia memiliki tekanan yang sangat berat baik dari tugas kuliah yang menumpuk atau persaingan akademik hingga tekanan sosial di kehidupan sehari-hari.

Hal ini dapat membuat mereka mencari cara cepat untuk mengatasi masalah tersebut dengan penggunaan obat bebas yang sering dianggap sebagai salah satu solusi praktis atau cepat.

Penggunaan obat bebas yang berlebihan juga dapat mengakibatkan gangguan psikologi seperti kecemasan, depresi, dan perubahan mood yang tidak stabil (mood swing).

Beberapa kasus penggunaan obat penenang dapat menyebabkan mahasiswa merasa terputus dari kenyataan dan mempengaruhi produktivitas serta interaksi sosial mereka. Sebagai contoh artikel yang saya baca pada (NLM).

Di Arab Saudi yang meneliti penggunaan obat bebas digunakan sebagai peningkatan konsentrasi pada saat ujian di kalangan mahasiswa.

Sebuah studi cross-sectional dirancang, yang terdiri dari kuesioner daring yang diisi sendiri yang terdiri dari 27 item, termasuk kesadaran, pengetahuan, dan sikap siswa terhadap penggunaan obat bebas selama ujian.

Sebanyak 463 (92,6%) kuesioner yang telah diisi diterima dari 500 peserta yang direkrut. Di antara peserta, 58,5% adalah perempuan, 47,9% berusia 22 tahun atau lebih dan menyelesaikan tahun terakhir studi mereka, dan 44,1% mahasiswa lebih suka untuk tidak mengungkapkan pendapatan bulanan mereka.

Penyebab paling umum (35,6%) penggunaan obat OTC selama periode pemeriksaan adalah sakit kepala, diikuti oleh nyeri (21%), demam (16,6%), dan batuk (8,2%).

Obat yang paling umum digunakan adalah obat pereda nyeri, antipiretik, obat batuk dan pilek, dan vitamin (masing-masing 57,2%, 16,4%, 11%, dan 7,3%).

Mahasiswa laki-laki menunjukkan kurangnya kesadaran dan pengetahuan yang signifikan mengenai keamanan dan alasan penggunaan obat bebas dibandingkan dengan mahasiswa perempuan dan cenderung tidak membaca brosur obat sebelum menggunakannya faktor signifikan lain yang memprediksi penggunaan obat bebas meliputi usia, tingkat universitas, dan pendapatan obat (https://pmc-ncbi-nlm-nih-gov.translate.goog/articles/PMC8236272/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc).

Salah satu bahaya utama penggunaan obat bebas dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan fisik. Meskipun dianggap sebagai solusi sederhana untuk mengatasi keluhan sehari-hari, penggunaan obat bebas tanpa pengawasan dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.

Obat-obat tertentu yang mengandung bahan kimia keras dapat menganggu sistem pencernaan atau bahkan kerusakan pada saluran pencernaan.

Selain itu, untuk mengatasi masalah tidur atau kecemasan dampak yang ditimbulkan dalam penggunaan obat bebas ini dapat menganggu kualitas tidur mahasiswa.

Meskipun obat tidur cepat membantu seseorang terlelap namun, penggunaan terus menerus bisa menyebabkan gangguan tidur jangka panjang yang lebih serius, seperti insomnia kronis.

Upaya dalam pencegahan penggunaan obat bebas tanpa resep dokter pada kalangan mahasiswa memerlukan pendekatan yang komprehensif.

Hal pertama yang harus dilajukan adalah diperlukannya adanya edukasi yang lebih intensif mengenai bahaya penggunaan obat bebas yang tidak tepat.

Pihak universitas dan institut pendidikan harus memberi informasi kepada mahasiswa tentang dampak dan efek yang ditimbulkan pada penyalahgunaan obat yang tidak sesuai anjuran dokter.

Karena itu sangat membahayakan diri mereka sendiri dan beresiko jangka panjang yang ditimbulkan dari penggunaan obat bebas tanpa resep dokter. Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang gaya hidup sehat.

Dengan cara mengatur waktu yang bijak, berolahraga secara teratur, serta mengatur pola makan yang baik. Hal tersebut mungkin meminimalisir membantu mahasiswa mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan fisik dan mental mereka.

Dalam hal tersebut, Lembaga Pendidikan sebaiknya menyelenggarakan seminar atau workshop mengenai cara mengatasi stres dan kesehatan mental agar mahasiswa memiliki alternatif lain untuk mengatasi suatu masalah tanpa harus menyalahgunakan obat bebas tanpa resep dokter.

(*) Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang) 

Editor : Jay Wijayanto
#mahasiswa #Agen Perubahan #Pemimpin Masa Depan #obat bebas