RADAR SURABAYA – Kontroversi terkait Gus Miftah yang mengolok-olok penjual es teh membuat publik marah.
Mereka menilai tindakan pendakwah bernama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman ini tidak sesuai dengan gelarnya sebagai seorang pemuka agama serta Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan. Akibatnya, muncul petisi untuk mencopot jabatan Gus Miftah sebagai utusan khusus Presiden Prabowo Subianto.
Dilansir dari website change.org terdapat 7 petisi yang mendesak Presiden Prabowo untuk mencopot Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah sebagai utusan khusus presiden.
Satu petisi berjudul “Copot Gus Miftah dari Jabatan Utusan Khusus Presiden” bahkan telah mendapat 17.400 orang penandatangan hingga Kamis (5/12) pukul 11.37 WIB.
Petisi tersebut diprakarsai oleh Dika Prakarsa pada Rabu (4/12) kemarin. Dia membuat petisi ini dikarenakan tindakan Gus Miftah yang menghina penjual es teh dengan kalimat “yo kono didol goblok (ya sana dijual bodoh)” dinilai tidak sopan dan tidak manusiawi.
“3 Desember 2024, hari dimana netizen tanah air merasakan perih, sakit hati yang mendalam atas apa yang terjadi pada bapak penjual es teh, bapak yang berjuang untuk keluarganya diperlakukan secara tidak hormat dan manusiawi oleh seorang pemuka agama, Gus Miftah. Dalam video yang beredar di internet, tampak bapak penjual es teh ditertawakan oleh semua orang yang ada di acara tersebut ketika Gus Miftah menghina beliau dengan kalimat "yo kono didol, goblok", dalam bahasa Indonesia "ya sana dijual goblok",” tulis petisi tersebut.
Sebelum kontroversi ini terjadi, Gus Miftah juga pernah kedapatan memperlakukan sang istri dengan tidak baik.
Kontroversi-kontroversi tersebut menunjukkan bahwa tindakan Gus Miftah sebagai pemuka agama dan utusan khusus presiden telah melenceng dari apa yang diajarkan oleh Presiden Prabowo.
Maka dari itu, petisi ini ditujukan kepada Presiden Prabowo untuk mempertimbangkan lagi mengenai jabatan utusan khusus yang diberikan kepada Gus Miftah.
“Atas dasar peristiwa ini, saya membuat petisi agar teman-teman yang melihat petisi ini mau meluangkan waktunya untuk memberikan tanda tangan agar bapak Prabowo Subianto mempertimbangkan kembali jabatan yang diberikan ke Gus Miftah. Dalam pidato bapak, sangat jelas bahwa bapak sangat menghormati, menghargai mereka-mereka yang bekerja sebagai pedagang, tukang bakso, nelayan, dan pekerja di lapisan masyarakat menengah lainnya. Mereka yang bekerja dan menghasilkan uang secara halal. Tapi sekarang, salah satu utusan bapak memberikan contoh sebaliknya. Jika ini terus dibiarkan, secara tidak langsung pemerintahan yang bapak pimpin ikut tercoreng. Apa yang dilakukan oleh Gus Miftah adalah gambaran karakter beliau, karena hal seperti ini sudah terjadi beberapa kali. Untuk itu, agar jajaran bapak sejalan dengan bapak, segara copot Gus Miftah!” tulis petisi tersebut.
Enam petisi lainnya baru ditandatangani ratusan dan puluhan orang. Petisi-petisi tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu sebagai berikut.
1. Berhentikan Gus Miftah dari Jabatan Khusus Presiden, 242 pendukung
2. Tolak Gus Miftah yang Suka Merendahkan Sesama Manusia, 114 pendukung
3. Copot Gus Miftah dari Jabatan Utusan Khusus Presiden!, 66 pendukung
4. Desak Gus Miftah atau Miftah Maulana Habiburrahman Mundur dari Jabatannya, 36 pendukung
5. Hentikan Gus Miftah dari Utusan Khusus Presiden, 16 pendukung
6. Copot Miftah dari Utusan Khusus Presiden bidang Kerukunan Beragama, 12 pendukung
Gus Miftah sendiri enggan memberikan tanggapannya mengenai petisi desakan kepada pemerintah untuk mencopot jabatannya. Dia mengatakan bahwa permasalahan tersebut bukan wewenangnya.
"Enggak usah tanya itu, enggak usah tanya itu. Bukan wewenang saya. Udah, udah itu bukan wewenang saya," kata Gus Miftah ketika ditemui di Ponpes Ora Aji, Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (4/11). (sas/jay)
Editor : Jay Wijayanto