Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengenang Arie Hanggara, Korban Kasus Kekerasan Terhadap Anak yang Melegenda

Nurista Purnamasari • Jumat, 29 November 2024 | 19:25 WIB

 

Arie Hanggara, bocah 7 tahun yang meninggal disiksa ayah dan ibu tirinya. Makam Arie Hanggara di Jeruk Purut, Jakarta Selatan (foto kanan).
Arie Hanggara, bocah 7 tahun yang meninggal disiksa ayah dan ibu tirinya. Makam Arie Hanggara di Jeruk Purut, Jakarta Selatan (foto kanan).
 

RADAR SURABAYA - Bagi sebagian orang mungkin asing mendengar nama Arie Hanggara. Apalagi bagi generasi saat ini, nama itu tak familiar bagi mereka.

Namun bagi mereka yang tumbuh besar sekitar tahun 1980 hingga 1990-an, mungkin pernah mendengar dan familiar dengan nama tersebut.

Arie Hanggara menjadi salah satu legenda kasus fenomenal di Indonesia. Arie Hanggara menjadi korban dari kekerasan yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Kasus Arie Hanggara menyita perhatian media massa dan publik kala itu.

Arie Hanggara meninggal akibat kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya Machtino, dan ibu tirinya, Santi pada 8 November tahun 1984.

Kala itu Arie Hanggara berumur tujuh tahun dan masih duduk di bangku kelas 1 SD.

Arie Hanggara adalah anak kedua dari pasangan Machtino Eddiwan dan pertamanya, Dahlia Nasution.

Menurut riwayat, Machtino dan Dahlia menikah pada 1975, dan dikaruniai dua orang anak.

Namun pernikahan keduanya tidak berjalan dengan baik. Sering sekali mereka berpindah-pindah rumah dan Machtino sendiri kerap berganti pekerjaan.

Dahlia lalu memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya pada 1981, dan bercerai dengan Machtino pada 1982.

Setelah bercerai, Machtino diketahui memiliki hubungan khusus dengan seorang perempuan bernama Santi, yang disebut-sebut merupakan teman dari Dahlia.

Arie dibawa oleh ayahnya ke rumah selingkuhannya yang bernama Santi, meski mereka belum resmi menikah. Santi sering dianggap sebagai ibu tiri Arie.

Arie Hanggara bersekolah di Perguruan Cikini, Jakarta Pusat, dan dikenal sebagai siswa yang periang serta pandai bergaul.

Namun dimata ibu tirinya, Arie dianggap sebagai anak yang nakal dan sulit diatur.

Arie tergeletak tak bernyawa di kamar mayat RSCM dengan sekujur tubuh babak belur Kamis subuh, 8 November 1984.

Luka ditubuh Arie akibat pukulan ayah kandungnya sendiri, Machtino Eddiwan.

Arie Hanggara memang kerap disiksa oleh sang ayah dan ibu tirinya.

Namun kekerasan yang berujung hilangnya nyawa Arie bermula pada 14 Agustus 1984, di mana Machtino menemukan uang Rp 8.500 di dalam tas sekolah milik Arie.

Padahal, Machtino mengatakan bahwa ia tidak pernah memberi Arie uang sebanyak itu.

Saat itu, Arie memang mengaku mengambil uang itu dari dalam tas temannya.

Akan tetapi, setelah salah seorang guru Arie menanyakan ternyata tidak ada satu orang pun yang merasa kehilangan uang.

Mengetahui hal ini, Machtino diketahui langsung memukul dan menghukum Arie.

Kejadian kedua terjadi pada tanggal 3 November, di mana kembali ditemukan uang sejumlah Rp 8.000 di dalam tas Arie.

Di kejadian kali ini Machtino dan Santi sudah sangat naik pitam. Seketika itu juga Arie langsung dihajar menggunakan gagang sapu dari tangan Machtino sendiri.

Santi pun turut melakukan kekerasan terhadap Arie, dia membenturkan kepala Arie ke tembok.

Keesokan harinya, Arie masih dihukum dengan mengangkat kedua tangannya dalam kondisi terikat dan menghadap tembok.

Tragisnya lagi, Arie tidak diberi makan dan minum. Menurut catatan kepolisian, Arie pada waktu itu hanya diperbolehkan minum pukul 14.00 WIB dan hanya diberi makan pada pukul 20.00 WIB.

Belum berhenti di situ, pada tanggal 5-7 November, Arie tidak diperbolehkan masuk sekolah.

Bahkan, pada tanggal 7 November malam, Arie kembali mendapat siksaan yang tak kunjung usai.

Sejak pukul 20.00, Arie disuruh berdiri menghadap tembok kamar mandi dan diperintahkan jongkok-berdiri secara bergantian.

Jika tidak sanggup, Arie akan langsung dihajar. Sampai ayahnya pergi tidur, Arie masih harus melakukan hukuman tersebut. Akan tetapi, nahasnya, sekitar tengah malam, sang ayah yang terbangun langsung murka begitu melihat Arie sudah duduk di kursi.

Arie kemudian langsung dipukuli menggunakan gagang sapu secara bertubi-tubi. 

Arie Hanggara tewas sekira pukul 03.00 dini hari, Arie yang sudah tidak sanggup menahan sakit terjatuh dan pingsan.

Ayahnya langsung bergegas membawa Arie ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Sayangnya, selama di perjalanan menuju ke rumah sakit, ternyata Arie sudah tidak bernyawa.

Sesampainya di rumah sakit, Machtino mengatakan bahwa putranya ini mengalami kecelakaan lalu lintas.

Namun, setelah melihat luka memar yang ada pada tubuh Arie, pihak rumah sakit curiga bahwa Arie tewas bukan karena kecelakaan, melainkan akibat siksaan fisik.

Pihak rumah sakit pun segera menghubungi kepolisian. Keesokan harinya, tanggal 9 November 1984, ketika hendak mengambil jenazah Arie di kamar mayat, Machtino ditangkap.

Kasus tentang Arie Hanggara ini pun sampai diangkat menjadi sebuah film pada tahun 1985 bertajuk Arie Hanggara.

Kisah pilu Arie Hanggara yang disiksa orang tuanya tetap menjadi kenangan buruk dan referensi penting terhadap peradilan kasus serupa di Indonesia.

Di meja persidangan, ayah Arie Hanggara, Machtino Eddiwan divonis lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Sementara itu, ibu tirinya, Santi, hanya divonis selama dua tahun sebab dinilai sekadar membantu Machtino dalam melakukan aksinya.

Jenazah Arie disemayamkan di Pemakaman Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Di samping kanan-kiri nisan Arie ada sebuah tulisan “Maafkan Papa” dan “Maafkan Mama.”

 Disebutkan bahwa tulisan itu dibuat sendiri oleh Machtino dan Santi setelah keduanya bebas. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#orang tua #arie hanggara #kekerasan terhadap anak #ibu tiri #Fenomenal