RADAR SURABAYA – Jika selama ini pembelajaran yang didapatkan di taman kanak-kanak (TK) hanya pembelajaran ringan dalam selipan kegiatan bermain.
Namun, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti akan memasukkan matematika dalam pembelajaran TK.
Hal itu dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas dan metode pembelajaran matematika di sekolah.
Kebijakan tersebut juga merupakan tugas khusus yang diberikan Presiden Prabowo Subianto.
Bahkan, Mu’ti dipanggil khusus ke istana untuk membahas hal tersebut beberapa waktu lalu.
Karena itu, Mu’ti berencana melakukan penguatan pendidikan matematika sejak dini. Khususnya di jenjang TK dan SD.
Dia memastikan, penguatan matematika di tingkat itu hanya berupa pengenalan dan penekanan pada logika.
"Tapi memang matematikanya bukan matematika yang serius menghitung. Tapi lebih sebagai pengenalan konsep-konsep dasar matematika, yang disampaikan tentu saja dengan memperhatikan tingkat intelektualitasnya," tuturnya dikutip, Selasa (29/10).
Menurut Mu’ti, matematika kerap menjadi momok bagi sebagian kalangan pelajar. Padahal, ilmu itu sangat penting bagi kehidupan sehari-hari.
Banyak hal yang membutuhkan ilmu matematika untuk pemecahannya.
Sambil guyon, dia bahkan menyebut, pembagian warisan juga memerlukan ilmu matematika agar tidak keliru.
"Memang matematika ini kan kalau kita bicara saintek, itu kan tidak bisa dilepaskan dari matematika, bahkan agama sekalipun juga tidak bisa dilepaskan dari matematika," ungkap Sekjen PP Muhammadiyah tersebut.
Mu’ti menambahkan, penting agar mata pelajaran tersebut dapat diajarkan secara mudah dan menyenangkan.
Tidak hanya terpaut pada buku dan cara-cara kaku. Untuk itu, pihaknya pun tengah menyiapkan program pelatihan bagi guru matematika.
Program ini bisa mulai berjalan awal tahun depan. "Terutama untuk matematika dari TK ya," katanya.
Dengan penguatan tersebut, Mu’ti turut meyakini bisa meningkatkan kualitas SDM di masa depan.
Hal ini pun bisa turut mengerek skor PISA Indonesia yang masih rendah.
Kendati begitu, dia mengingatkan bahwa program tersebut tak akan menunjukkan hasil instan.
Butuh waktu kurang lebih empat tahun hingga hasilnya benar-benar berdampak nyata. (jpc/nur)
Editor : Nurista Purnamasari