Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kenapa Muhammadiyah dan Pemerintah Indonesia Rayakan Idul Adha Berbeda dari Arab Saudi, Berikut Penjelasannya!

Jay Wijayanto • Selasa, 11 Juni 2024 | 00:19 WIB
anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof. Agus Purwanto.
anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof. Agus Purwanto.

SURABAYA - PP Muhammadiyah dan Kementerian Agama RI menetapkan hari raya Idul Adha pada tahun ini jatuh pada Senin, 17 Juni 2024. Namun, pemerintah Arab Saudi menetapkan hari raya Idul Fitri sehari lebih awal atau jatuh pada Minggu, 16 Juni 2024.

Tentang perbedaan penetapan hari raya Idul Adha ini, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof. Agus Purwanto mengatakan bahwa perbedaan penetapan hari raya Idul Adha antara Indonesia dan Saudi Arabia bukanlah hal yang baru.

"Ini bukan pertama terjadi, sudah sering. Sehingga, seharusnya warga Muhammadiyah dan umat Islam di Indonesia tidak lagi merasa kaget dengan fenomena ini," katanya seperti dilansir di majelis tabligh, kemarin.

Menurut dia, dalam beberapa tahun terakhir, pola perbedaan ini cukup bervariasi.

Dua tahun berturut-turut sebelumnya, Idul Adha di Arab Saudi bersamaan dengan Muhammadiyah, tetapi mendahului pemerintah Indonesia. Sebelumnya, Idul Adha di Saudi bersamaan dengan pemerintah Indonesia, sementara Muhammadiyah mendahului.

Namun, ada juga tahun dimana Muhammadiyah, pemerintah, dan Arab Saudi ber-Idul Adha pada hari yang sama.

Pada tahun 2024 ini, Idul Adha di Arab Saudi mendahului Muhammadiyah dan Pemerintah Indonesia.

Muhammadiyah menetapkan tanggal 29 Zulqa’dah 1445 H jatuh pada Kamis, 6 Juni 2024. Namun, ketika maghrib tanggal 6 Juni 2024, konjungsi belum terjadi (konjungsi baru terjadi pada pukul 19:04 WIB), sehingga siklus bulan Zulqa’dah belum berakhir.

Dengan demikian, berdasarkan kriteria Wujudul Hilal, Zulqa’dah disempurnakan menjadi 30 hari, dan 1 Zulhijah 1445 H jatuh pada Sabtu, 8 Juni 2024, sehingga Idul Adha pada Senin, 17 Juni 2024.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia yang awal Zulqa’dahnya satu hari lebih lambat dari Muhammadiyah menetapkan tanggal 29 Zulqa’dah 1445 H jatuh pada Jumat, 7 Juni 2024.

Ketika maghrib pada Jumat, 7 Juni 2024, konjungsi telah terjadi dan tinggi hilal mencapai 8 derajat 48 detik, memenuhi kriteria awal bulan versi MABIMS.

Maka, Sabtu, 8 Juni 2024, ditetapkan sebagai 1 Zulhijah 1445 H, dan Idul Adha pada Senin, 17 Juni 2024.

Di sisi lain, Arab Saudi menetapkan awal Zulqa’dah sama dengan Muhammadiyah, sehingga 29 Zulqa’dah 1445 H juga jatuh pada Kamis, 6 Juni 2024.

Namun berdasarkan perhitungan di Stellarium untuk Jeddah, matahari terbenam pada pukul 19:00 waktu Saudi atau 23:00 WIB dan tinggi hilal 1 derajat 58 detik.

Metode hisab Saudi mirip dengan Muhammadiyah menggunakan Wiladatul Hilal. Karena posisi hilal positif, maka Jumat, 7 Juni 2024 sudah masuk 1 Zulhijah 1445 H.

Terlebih lagi, diumumkan bahwa ada yang berhasil melihat hilal, sehingga lebih mantap menetapkan Jumat, 7 Juni 2024 sebagai awal Zulhijah, dan Idul Adha pada Ahad, 16 Juni 2024.

Perbedaan ini tentu saja akan berdampak pada perbedaan dalam pelaksanaan puasa Arafah dan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah.

Idealnya, puasa dan wukuf di Arafah dilakukan pada waktu yang bersamaan.

Adanya perbedaan ini semakin menegaskan pentingnya Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang memiliki prinsip satu hari untuk seluruh dunia, sehingga perbedaan puasa dan wukuf di Arafah tidak lagi terjadi.

Dengan adanya Kalender Hijriyah Global Tunggal, umat Islam di seluruh dunia dapat merayakan hari-hari besar Islam secara serempak. Ini bukan hanya menyelaraskan waktu puasa dan wukuf, tetapi juga memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan di antara umat Islam di berbagai belahan dunia. (mjt/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#Kementerian Agama RI #pp muhammadiyah #arab saudi #idul adha